NeoRevo’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Orang Terakhir Bag. 4

Tepat tiga puluh tahun yang lalu. Gedung Excersor, sekitar jam 10 malam. Seorang pria berlari di koridor lantai tujuh.

“Cepat tangkap orang itu!”, teriak para pengaman gedung. Mereka mengejar pria itu yang berlari menuju lift.

“Tutup semua akses keluar!”, perintah kepala keamanan.

Pria tersebut terus berlari menaiki tangga. Ia tahu kesempatan untuk lolos sangat kecil. Tapi ia harus meloloskan diri. Hidup atau mati asal program yang ada di tangannya harus dikirim segera.

“Tangkap dia, jangan sampai lolos. Jangan dibunuh. Aku ingin ia hidup-hidup!”, perintah Laxirmir, Boss Excersor.

“Baik, Pak”, singkat saja kepala keamanan menjawab sambil menutup telepon jam di tangannya.

Sementara itu, pria tadi terus berlari naik ke tangga ke lantai sembilan. Tangannya sibuk menekan tombol yang ada di jamnya. Ia lagi berusaha mengirimkan program tersebut. Sinyal di gedung itu memang sulit. Tidak heran, karena Laximir telah memblokir akses sinyal di gedung tersebut. Ia terus mencoba. Tepat ketika ia sampai di atap gedung, ia berhasil mendapatkan sinyal. Program telah terkirim.

“Jangan bergerak!”, perintah para pengaman gedung. Mereka menodongkan pistol ke arahnya.

“Haha hahahaa. Kalian ingin membunuhku, bunuhlah. Toh tugasku selesai. Yang tersisa memang kematian yang kucari. Ayo cepat tembak. Semakin cepat kalian membunuhku semakin cepat aku bertemu dengan Tuhanku!”. Ayo cepat tembak!”

Para pengaman gedung tampak ragu-ragu. Mereka mendapatkan perintah untuk tidak membunuhnya, tapi mereka tidak memiliki cara untuk menangkapnya hidup-hidup. Pria itu siap dengan pistolnya pula. Jika mereka mendekat, nyawa melayang. Jika tidak menangkapnya mereka dapat hukuman. Boleh jadi hukuman mati. Mereka semua terdiam, memikirkan cara menangkapnya. Tiba-tiba tanpa ada komando, salah satu dari mereka memuntahkan peluru.

“DOR!”

“Ah!”

Pria itu tersungkur. Kaki kanannya berdarah.

“Cepat, ringkus dia!”, perintah salah satu dari mereka.

Dengan cepat mereka mencoba menangkapnya. Salah satu dari mereka mencoba untuk menendang pistolnya. Tapi terlambat, pria tersebut sempat menarik pelatuk.

“DOR DOR!”

Dua orang tersungkur. Tapi yang lain dapat merebut pistolnya. Ia melawan. Perkelahian tak dapat dihindarkan.  Empat melawan satu. Tak seimbang. Ia kalah dengan tiga kali pukulan di wajahnya dan dua kali tendangan di perut, ia tersungkur di lantai.

 

bersambung . . . .

Maret 10, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Orang Terakhir Bag. 3

Tepat di depan pintu rumah itu. Suara desing peluru menembaki para tentara Yisir. Prixy dan ibunya pun terkejut. Mereka spontan merunduk dan berbaring. Prixy sempat ingin berteriak tapi ibunya dengan cepat membungkamnya.

“Ssstt, jangan teriak”, kata ibunya dengan lirih. Prixy masih takut. Tak lama kemudian ia bertanya.

“Siapa Bu yang menembak tadi?”

“Ibu tidak tahu, yang jelas tentara Yisir sedang diserang. semoga saja mereka tidak masuk ke sini kalau tidak . . .”

Belum selesai kalimatnya, tiba-tiba seorang tentara Yisir mendobrak masuk. Pintu terbuka. Cahaya luar pun menerangi sebagian ruangan di mana Prixy dan ibunya masih di atas lantai berbaring ketakutan. Tentara itu tampak terluka. Wajahnya yang tertutup oleh topeng baja tampak berlumuran darah. Ia jatuh tersungkur. Sebuah senapan otomatis tergeletak di sampingnya. Ia mati tertembak.

Tanpa berpikir panjang, Ibu Prixy segera bangkit dan mengambil senjata tersebut. Prixy melihatnya dengan hati yang berdebar-debar. Sejurus kemudian, ibunya kembali ke tempatnya dengan senjata tersebut. Tapi ia lupa menutup pintu.

Pintu masih terbuka. Sedikit lebar. Dan Suara tembakan masih berdesingan di rumah tersebut.

“Bu, pintunya. “

“Tunggu di sini!”

Ibu Prixy segera bangkit kembali. Bergerak cepat menuju ke pintu. Tapi tepat di depan pintu, ia melihat seseorang berdiri dengan sebilah pedang di sampingnya. Laki-laki tersebut berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Bukan darahnya tapi darah tentara Yisir. Untuk sesaat, ibu Prixy terdiam. Kemudian keheningan pecah oleh suara orang tersebut.

“Tenang Anda sudah aman.”

Ibu Prixy masih terdiam. Ia melihat sekelilingnya. Darah bersimbah di mana-mana. Tentara Yisir banyak yang mati. Ada tertembak dan ada yang terhunus pedang.

“Anda siapa? Dan kemana tentara Yisir lainnya?”

Belum sempat laiki-laki tersebut menjawab, tiba-tiba terdengar suara lantang berteriak-teriak dari ujung jalan.

“Cepat sembunyi, tentara Yisir sedang menuju ke mari!”

Tanpa berpikir panjang, laki-laki tersebut menarik tangan ibu Prixy ke dalam rumah tersebut. Pintu pun ditutupnya. Ibu Prixy menurut saja tanpa banyak kata-kata. Prixy tidak bisa melihat laki-laki tersebut dengan jelas. Tapi ia seperti kenal suara tersebut. Entah di mana. Tapi suara tersebut tidak asing baginya.

 

bersambung . . . .

 

 

 

 

 

Maret 4, 2008 Posted by | Artikel Sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

Alam Filsafat Vs Tafsir Al Qur’an: Gazwul Fikri Baru (Neo Mind Battling) Bag. 4

plato.jpg
Wacana hermeneutika untuk diterapkan di Al Qur’an memang sangat bermasalah. Bagaimana tidak, jika Al Qur’an akan ‘dikuliti’ dengan pisau bedah alam pemikiran filsafat Yunani.
Menurut Kattsoff, yang bukunya berjudul Elements of Philosophy kemudian diterjemahkan oleh Soejono Soemargono dengan judul Pengantar Filsafat, kegiatan kefilsafatan itu sesungguhnya merupakan perenungan atau pemikiran. Dan pemikiran jenis ini berupa meragukan segala sesuatu.
Jika berdasarkan di atas, maka Al Qur’an dibedah dengan filsafat artinya pembedahan ini berhasil apabila dari awal kita meragukan kesucian Al Qur’an terlebih dahulu. Artinya untuk mencapai hasil kebenaran, maka pertama harus meniadakan keyakinan atas kesucian Al Qur’an selama ini yang merupakan kalam Illahi yang mana lahfaz dan makna dari Allah. Yang kedua bahwa Al Qur’an tidak suci dari interfensi manusia, dalam hal ini Nabi Muhammad. Dan yang ketiga penyusunanya yang dikatakan sempurna dan tidak dapat dirubah-rubah harus dipertanyakan secara sejarah karena boleh jadi ada masalah dalam hal ini.
Ini semua adalah yang diinginkan oleh orang-orang yang ingin menerapkan alam pemikiran filsafat ke dalam Al Qur’an atau dengan kata lain menggunakan metode hermeneutika. Berawal dari keraguan untuk mencapai keyakinan. Begitu kira-kira maksud mereka.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang hermeneutika berikut penulis sajikan ringkasan dari beberapa artikel tentang hermeneutika ini. Untuk lebih jauh tentang artikel ini baca majalah ISLAMIA vol. III no. 3.
Hermeneutika dan Latar Belakangnya
Pihak teolog Protestan adalah pemicu munculnya sebuah teori penafisiran Bibel dan salah satu tokoh penting untuk hal ini adalah William Dilthey (1833-1911). Dan sebelum Dilthey, muncul tokoh penting untuk hermeneutika ini adalah Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834). Menurut Schleiermacher , Bibel adalah wahyu yang ditulis dalam bahasa manusia oleh karenanya Bibel harus diperlakukan seperti karya-karya tulis lain yang dapat ditafsirkan dengan membebaskan penafsiran dari dogma dan tradisi.
Untuk memulai penafsiran Bibel, Schleiermacher memberi metode bahwa sebuah teks dapat dipahami dengan melakukan penafsiran tata bahasa dan psikologis. Penafsiran tata bahasa berfungsi untuk mengidentifikasi secara jelas makna isitilah bahasa yang digunakan dalam teks. Adapun penafsiran psikologis berfungsi untuk megidentifikasi motif pengarang dalam suatu waktu dari kehidupannya ketika menulis teks.
Dan yang lebih utama lagi menurut Schleiermacher, kitab suci (Bibel) tidak memerlukan metode yang khusus untuk menafsirkannya. Artinya, penafsiran ini harus bebas dari penafsiran tradisional atas nama gereja selama ini.
Hermeneutika ini kemudian dilanjuti lagi oleh Dilthey ( 1833-1911) denagn menambankan aspek sejarah dalam penafsirannya. Baginya, perspektif sejarah sangat penting karena teks yang akan ditafsirkan adalah realitas itu sendiri beserta kesaling-terkaitannya. Dalam pandangan Dilthey, toeri hermeneutika telah berada jauh di atas persoalan bahasa dan pengarang tidak memiliki otoritas atas makna teks, tetapi sejarahlah yang menentukan.
Adapun menurut The New Encyclopedia Britannica seperti yang penulis kutip dari buku Husaini Hermeneutika dan Tafsir Al Qur’an (2007), bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bibel. Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bibel.
Demikianlah ringkasan tentang hermeneutika yang dapat penulis sajikan kepada Anda.
Selanjutnya, Siapa saja yang menerapkan hermeneutika ini untuk diterapkan pada Al Qur’an? Dan bagaimana pertarungan pemikiran ini berlanjut ketika orang yang mengaku muslim sendiri yang menerapkan hermeneutika untuk Al Qur’an? Kelanjutannya silakan tunggu artikel berikutnya!

Maret 4, 2008 Posted by | Artikel Argumentasi | 4 Komentar

Alam Filsafat Vs Tafsir Al Qur’an: Gazwul Fikri Baru (Neo Mind Battling) Bag. 3

aristoteles_busto1.jpgal-quran.jpgAlam pemikiran Yunani yang telah menyebar di kalangan umat Islam bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi ilmu ini dapat membantu dalam menarik kesimpulan yang benar di satu sisi lain ia ternyata membawa ‘ideologi’ yang sejatinya sangat berbeda dengan Islam. Alam pemikiran filsafat bermula dari pertanyaan, yang kemudian jawaban dari pertanyaan tersebut dicari, dikonsepkan lalu kembali diujikan lewat pertanyaan berikutnya.
Al Kindi, sebagai bapak filosof muslim pertama, yang berjasa membawa alam pemikiran ini ke dunia Islam. Hanya saja dalam perkembangannya, alam pemikiran Yunani ini menjadi ‘racun’ ketika siapa saja pengolahnya terjebak dalam dunia rasional. Artinya, ia lebih mengandalkan kemampuan akalnya untuk menjawab pertanyaan yang ada, baik dari dirinya sendir atau dari luar. Penyelesaian masalah (baca: mencari jawaban) dari pertanyaan inilah yang membawa seseorang terjebak dalam dunia rasio dan empiris bila ia tidak memegang erat-erat Al Qur’an dan Al Hadits secara mutlak. Artinya, kepercayaan terhadap Al Qur’an harus mutlak dari pada mengikuti pola pemikiran yang didasari dari filsafat. Setiap jawaban yang ‘menganggu’ pemikiran kita, harus dipulangkan kembali kepada kebenaran sejati dari Al Qur’an.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa sains pada hari ini berpijak pada filsafat Yunani. Dan sains ini menghasilkan kebenaran relatif yang artinya dalam masa-masa selanjutnya kebenaran ini boleh jadi sebuah kesalahan yang perlu diperbaiki. Dan dalam filsafat, semua pemikiran harus berawal pada skeptis atau keraguan. Artinya, semua yang ada di dunia ada masih diragukan kebenarannya hingga ada jawaban filsafati yang memuaskan (ingat kepuasan adalah kata lain dari sifat hawa nafsu) bahwa hal itu bisa diterima.
Relatif dan skeptis inilah yang jelas-jelas bertentangan dengan konsep Islam. Ketika berbicara tentang hal-hal yang telah mutlak dalam Islam, maka Islam hanya memberi dua pilihan: percaya atau tidak, atau dengan bahasa lain: Beriman atau tidak. Hal ini disebabkan Al Qur’an diturunkan untuk diimani. Dan jika ada yang tidak beriman bahwa Al Qur’an itu wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi melalui malaikat Jibril maka Islam tidak memaksa orang tersebut untuk percaya/beriman. Ia malah diajak untuk berdialog dengan membebaskan dirinya untuk tidak membenci Islam terlebih dahulu. Jika ia telah tertanam kebencian lebih dahulu, maka sulit mencapai dialog terbuka untuk mencapai ‘kesepakatan-kesepakatan’ yang sama. Jika dialog tanpa kebencian ini ada, maka ‘kesepakatan untuk berbeda’ ini akan sama-sama dihormati kedua belah pihak, seperti yang dicontohkan oleh Nabi dalam piagam Madinah. Yahudi, Nasrani dan Islam beda dalam ideologi tapi sepakat dalam satu payung piagam Madinah dalam membangun civil society.
Hanya saja, dalam Islam ada hal-hal yang dapat didialogkan untuk mencapai ‘sepakat untuk sama’ dan ada yang tidak dapat didialogkan . Dan ada yang dapat didiaologkan untuk ‘sepakat untuk tetap berbeda selamanya’. Dan sayangnya, ada sebagaian umat Islam yang masuk dalam hal-hal yang sudah jelas dan mutlak (qot’i) untuk didialogkan dengan konsep dari luar untuk sampai pada ‘sepakat untuk sama’. Yang dimaksud ‘sepakat untuk sama’ adalah bahwa dalam Islam itu ternyata sama apa yang ada di agama lain, dalam hal ini Nasrani.
Sepakat untuk sama yang mereka inginkan adalah bahwa Al Qur’an itu sama seperti Injil yang perlu dikritisi secara ilmiah (baca: dengan sains). Bila Injil bisa dikritisi mengapa Al Qur’an tidak? Begitulah kira-kira pertanyaan sederhananya dari mereka. Mereka ingin sepakat bahwa Al Qur’an dapat dikritisi melalu pisau bedah alam pemikiran Yunani, Hermeneutika.
Ada di antara muslim Indonesia yang ingin mendialogkan (mewacanakan) hal-hal yang qot’i dengan mengambil metodologi dari luar Islam. Mereka beranggapan bahwa Al Qur’an perlu dikritisi untuk mencapai keyakinan yang lebih kuat melalui pisau bedah hermeneutika.
Untuk memberi contoh karya kritis terhadap Injil, penulis dapat memberi contoh kepada Anda melalui buku Kritik Bibel, sebuah buku terjemahan dari karya Baruch Spinoza, Tractatus Theologico-Politicus. Baruch Spinoza, seorang filosof dan teolog Yahudi, menyatakan bahwa kebebasan berpikir tidak membahayakan iman dan negara. Dengan konsep kebebasan berpikir inilh ia mencoba melepaskan belenggu dirinya untuk mengkritisi Injil dengan tiga pertanyaan skeptis utama untuk dibahas. Yang pertama berkaitan dengan kebahasaan dan bahasa sang pemakai dalam penulisan Injil. Yang kedua berkaitan dengan ayat-ayat untuk dikelompokkan secara tematis dan sistematis. Dan juga mana yang jelas dan tidak jelas. Yang dimaksud jelas adalah jelas menurut konteks kalimat bukan menurut logika. Dan yang ketiga adalah berkaitan dengan latar belakang sejarah / riwayat penulis Injil.
Injil/Bibel dikritisi oleh sebagian umat Nasrani memang dirasakan perlu oleh mereka. Hal ini sebabkan sejarah penyusunan Injil yang memang penuh dengan masalah. Maka diantara mereka ada yang mencoba untuk menganalisa melalui metodologi hermeneutika untuk mencapai kebenaran yang hakiki. hal ini disebabkan Injil yang ada sekarang ini adalah “wahyu Tuhan yang diinspirasikan kepada manusia.” Oleh karenanya, Injil merupakan teks karya manusia yang mana manusia, secara fitrah, pasti memiliki kesalahan-kesalahan. Dan tugas utama dari hermeneutika adalah untuk memahami teks sebagai mana dimaksudkan oleh para penulis teks itu sendiri. Selanjutnya, timbullah penafsiran-penafsiran yang memberikan kebenaran relatif. Dimaksud relatif, karena metodologi ini berasal dari Yunani, maka kebenaran itu tetaplah relatif selama menggunakan metodologi ini. Dengan demikian, tidak ada kebenaran mutlak dalam Injil, karena penafsiran Anda dan Saya yang relatif tadi.
Ini semua ingin diaplikasikan pada Al Qur’an. Dan inilah perang pemikiran baru di abad ini yang dihadapi umat Islam.
Selanjutnya bagaimana perang pemikiran ini? Ikuti artikel selanjutnya!

Februari 28, 2008 Posted by | Artikel Kajian | Tinggalkan sebuah Komentar

Orang Terakhir Bag. 2

Sifat dingin Drixir bukan hal yang luar biasa di zaman itu. Ketika zaman telah mendekati kiamat, banyak kekerasan terjadi. Pembunuhan terjadi di mana-mana, meski itu terjadi karena hal-hal yang sepele. Dan Drixir kecil telah terbiasa melihat darah segar di sekitar lingkungannya. Maka, tidaklah mengherankan jika ia begitu dingin melihat darahnya sendiri mengucur deras dari pipinya.
“Prixy, jangan lari ke sana!”, teriak seorang ibu kepada anak perempuannya. “Ayo, kita sembunyi di sini!”
“Tapi di sana lebih aman, Bu”, jawab Prixy dengan setengah teriak.
Tanpa banyak kata, sang ibu mengejar Prixy yang terus berlari menuju gedung kosong. Dengan memasak, sang ibu menarik tangan Prixy. Prixy pun meronta melawan.
“Lepaskan, Bu lepaskan!”
“Tidak, nak. Tentara Yisir telah memasang perangkap di setiap gedung, dan kita harus menghindar dari gedung kosong itu.”
“Tapi, Bu percayalah, gedung di sana itu aman.”
“Aman bagaimana maksudmu? semua gedung sudah dipasang perangkap dan kita harus sembunyi di tempat lain.”
“Tapi, Bu . . .”
Dengan terus menarik tangan Prixy, sang ibu membawanya ke tempat yang ia maksud. Tanpa banyak kata, Prixy mengikuti kemauan ibunya. Mereka menuju ke sebuah rumah kosong. Sebuah rumah yang lebih tepat disebut sebuah tempat barang rongsokan. Penuh dengan debu dan tikus. Pengap dan hampir tidak ada  pencayahaan.  Barang-barang yang tidak terpakai menjadi rumah tikus dan binatang kecil lainnya, seperti kecoa dan lipan. Prixy tampak segan untuk melangkah masuk ke dalam. Tapi ia sadar, melawan kemauan ibunya adalah sia-sia. Entah apa yang ada dibenak ibunya hingga mereka harus sembunyi di rumah itu. Mungkin karena rumah itu kosong dan tidak terawat. Tapi bukankah semua gedung sama kondisinya dengan rumah itu? Prixy hanya bertanya-tanya hingga ibunya berkata, “Cepat ambil kain terpal itu.” Dengan sedikit tergopoh-gopoh, Prixy mengampil terpal yang dimaksud lalu memberikan kepada ibunya.
“Sekarang kita lihat di sekililing rumah ini, mungkin ada sesuatu yang dapat digunakan sebagai penerangan.”
“Tapi, Bu kalau kita nyalakan api, tentara Yisir pasti tahu kita ada di sini?”
“Benar, api yang akan kita nyalakan bukan untuk penerangan, tapi untuk perangkap.”
“Perangkap? Maksud Ibu untuk menjebak tentara Yisir?”
“Iya, tapi bukan untuk sekarang.”
“Tapi kitakan tidak punya apa-apa untuk melawan mereka, Bu?”
“Tapi kita punya akal.”
“Ibu, bukannya aku tidak setuju, tapi akal saja tidak cukup melawan mereka.”
“Nak, melawan atau tidak, kita tetap saja akan dibunuh oleh mereka. Tapi lebih terhormat kalau kita mati dengan cara syahid daripada mati seperti budak tidak berdaya.”
“Bu, aku bukan takut mati, tapi pasti ada cara lain untuk bertahan hidup.”
“Cara lain bagaimana? Sembunyi di gedung itu maksudmu?”
“Bu, aku tidak ingin berdebat dalam kondisi seperti ini. Apalagi aku lagi hamil. Aku ingin kita selamat dan paling tidak aku dapat melahirkan anakku ini.”
Sambil memegang perut dan mengelus-elusnya, Prixy menahan tangis. Entah tangis bahagia menanti kelahiran anaknya atau tangis karena harapannya yang begitu kecil di depan mata. Bercampur aduk. Ia tahu mereka pasti dikejar oleh tentara Yisir hingga ke ujung dunia, tapi menyelamatkan kandungannya adalah harapan yang tersisa untuk melawan bangsa Yisir.
Melihat Prixy mengeluarkan air mata, sang Ibu mendekati Prixy. Ia mendekap Prixy dalam-dalam sambil berkata, “Ia juga bakal cucuku yang pertama, Prixy. Ibu sudah tidak sabar melihatnya lalu ketika ia besar ibu dipanggil nenek. Ah, betapa bahagianya aku telah menjadi seorang nenek. Tapi kita harus tegar dan kuat. Sebisa apapun kita harus selamat. Bukan hanya untuk kita bayimu dan semua bangsa Turag. Ingat pesan ayahmu, imanlah yang harus membuat kita  tegar. Imanlah yang harus menjadi kita kuat. Bangsa Yisir ingin membinasakan bangsa kita hanya karena kita beriman. Prixy, kita harus sebisa kita untuk melawan. Paling tidak kita berlindung untuk selamat sementara hingga kamu melahirkan bayimu ini. Sambil berkata demikian, sang ibu mencium perut Prixy dengan penuh kasih sayang. Prixy melihatnya dengan tersenyum bahagia. Ia merasa masih ada satu harapan untuk tetap hidup . Dan harapan itu dalam kandungannya.
Tiba-tiba, terdengar derap langkah berat dari luar. Prixy dan Ibunya pun tersentak kaget. Mereka diam dan tampak ketakutan. Mereka menunggu apakah langkah tersebut menuju ke rumah itu atau tidak. Terdengar suara perintah yang begitu berwibawa. Suara itu terdengar begitu dekat dan lantang.
“Cepat, periksa setiap sudut dari rumah-rumah di sini. Jangan ada sejengkal pun yang tertinggal!”
Tentara yang diperintahkan pun segera menuju ke setiap rumah. Prixy dan Ibunya tahu, ini hanyalah tinggal menunggu waktu saja tempat persembunyiaan mereka akan diperiksa. Mereka masih berdiri. Diam, ketakutan dan menunggu apa yang terjadi. Sementara mereka sendiri belum tahu sama sekali keadaan setiap sudut rumah itu.
Langkah tentara Yisir semakin dekat ke tempat persembunyiaan mereka. Dan suara-suara perintah untuk membongkar setiap sudut rumah itu pun semakin dekat. Begtu dekat hingga hanya selangkah-dua langkah lagi di depan pintu. Prixy semakin ketakutan. Ia mendekap Ibunya semakin erat. Ia tidak bisa berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba terdengar suara.
bersambung . . . .

Februari 26, 2008 Posted by | Artikel Sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

Orang Terakhir Bag. 1

Sinopsis

Cerita fiksi bersambung ini bergenre futuristik tentang orang terakhir yang beriman menjelang hari kiamat. Menjelang hari kiamat banyak terjadi huru-hara dengan orang-orang yang beriman tinggal sedikit. Pengejaran, perburuan serta pembantaian orang yang beriman terjadi di bawah kekuasaan bangsa Yisir. Ketegangan demi ketegangan dalam novel ini membuat Anda bertanya-tanya siapakah orang terakhir tersebut, dan bagaimana nasibnya? Jawabannya silakan Anda mengikuti ceritanya. Selamat membaca!

Mendung menyelimuti kota. Gelap, pekat, menambah kegentingan suasana senja. Ada yang berlarian ke sana ke mari. Kalut mencari tempat persembunyian. Ada yang berteriak minta tolong di antara kerumunan orang yang bingung mencari tempat persembunyian. Sementara gedung-gedung tinggi banyak yang kosong. Ditinggalkan begitu saja. Terbakar seminggu yang lalu dan masih mengepulkan asap. Kaca-kaca pecah dan seluruh ruangan berantakan. Sepi dan gelap. Seluruh gedung-gedung tinggi seperti gudang besar yang kosong. Tak seorang pun yang berani mendekati gedung-gedung tersebut. Mereka tahu, jika bersembunyi di sana maka itu sama saja mengulang kejadian kemarin.

Saat itu, sekitar puluhan orang, laki-laki, wanita dan anak-anak kecil bersembunyi di lantai dua di gedung Central Tower. Mereka pikir bersembunyi di sana aman dari kejaran bangsa Yisir. Tetapi tanpa disangka, Jenderal Drixir mengetahui tempat persembunyian mereka melalui pendektesi panas tubuh. Dengan tanpa ultimatum terlebih dahulu, sang jenderal memerintahkan pasukannya untuk membunuh mereka. Menutup pintu dari luar lalu membakar mereka hidup-hidup. Keji, tapi itu tindakan efektif. Paling tidak, itu pendapat jenderal Drixir. Efektif, karena dalam kondisi sehabis perang hebat dengan bangsa Traw, alat persenjataan yang tersisa tidak banyak . Dan untuk menghabisi bangsa Turag, jenderal Drixir berpikir praktis. Cepat, mudah tapi berhasil memakan korban banyak. Itulah taktik perang yang digunakannya kemarin.

Keji dan begitu dingin. Demi satu tujuan yang segera terwujud, dominasi ideologi non-tuhan dalam wilayah kekuasaan bangsa Yisir. Bahkan, pembantaian bangsa yang beriman harus dilakukan agar generasi bangsa Turag yang beriman tidak akan lahir kembali di tanah bangsa Yisir . Memang dalam setahun terakhir, bangsa Turag yang beriman memang semakin berkurang. Tetapi yang beriman, meski sedikit jumlahnya, benar-benar memiliki pengaruh hebat untuk melawan bangsa Yisir.

Jenderal Drixir, sebagai pemegang komando langsung di lapangan, memang terkenal kejam dan berdarah dingin. Ia terkenal dengan ciri bekas luka di wajahnya yang berbentuk seperti huruf V. Luka itu ia dapatkan ketika ia bermain dengan teman sebayanya, Zriz di masa kecil. Saat itu, mereka asyik membuat pedang-pedangan dari sebilah bambu. Setelah dibuat, bambu tersebut mereka saling adukan seolah-olah perang tanding antarmusuh. Tanpa disengaja, bambu Zriz mengenai pipi kanan Drixir. Merobek pipi dengan cepat. Spontan, Drixir memegang pipinya. Dari sela-sela jarinya mengalir darah segar. Melihat Drixir berdarah, Zriz pun ketakutan. Selama beberapa menit ia terpaku diam. Hanya memandang temanya yang terluka dengan tatapan takut bercampur bersalah. Drixir, dengan tenangnya, hanya mengusap darah dari jemarinya lalu melangkah pulang ke rumah tanpa berkata apapun. Melihat darah mengucur deras dari pipi Drixir, Zriz lari meninggalkan Drixir sendirian. Drixir tidak menghiraukannya. Dan itulah terakhir kalinya mereka bertemu dan berteman. Ia masih berdiri di sana dengan tangan berlumuran darah segar. Tampak jelas bakat darah dinginnya. Ia melangkah pulang, tetap tenang berjalan tanpa meringis kesakitan sedikit pun. Dingin, tanpa ekspresi. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

bersambung . . . .

 

 

 

 

 

 

Februari 22, 2008 Posted by | Artikel Sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

Kisah Berhikmah1: Berfilsafat Salah

Suatu hari, datanglah seorang pemuda kepada Imam Syafi’i, seraya berkata:”Bagaimana bisa Iblis diciptakan dari api lalu Allah menyiksanya dengan api juga di dalam neraka?”

Mendengar pertanyaan yang berlagak filsafat ini, Imam Syafi’i berpikir sejenak. Kemudian beliau mengambil segenggam tanah kering dan melemparkannya ke arah pemuda tersebut. Pemuda tersebut marah dan kesakitan. Imam Syafi’i lalu balik bertanya, “Apakah engkau merasakan sakit?” Dengan kesal pemuda tersebut menjawab, “Jelas sakit.”

Imam Syafi’i berkata, “Bagaimana mungkin seseorang yang dicipta dari tanah dapat merasakan sakit bila dilempar dengan tanah?”

Mendengar pertanyaan ini, si pemuda terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Ia paham dengan apa yang dimaksud oleh Imam Syafi’i bahwa meski setan dicipta dari api tetap saja dapat disiksa dengan api!

 Hikmah dari kisah di atas

 Pada zaman Imam Syafi’i, alam pikir filsafat telah menyebar di kalangan umat Islam, hingga timbullah aliran Mu’tazilah yang lebih mengedepankan rasio daripada Qur’an dan Hadits. Kala itu banyak yang terjebak dalam dunia rasio hingga sukit keluar dari lingkaran setan yang telah dibangun sendiri olehnya. 

Memang banyak hal yang tidak kita ketahui dalam dunia ini, apalagi alam akhirat. Dan itu menjadikan bahan-bahan pertanyaan dalam kalangan umat Islam. Tetapi kita harus membatasi diri dalam sebuah pertanyaan. Tidak semua pertanyaan itu memiliki jawaban, dan tidak semua pertanyaan itu baik. Terkadang membuat pertanyaan itu salah apabila tidak masuk dalam batasan-batasan yang telah dilarang dalam Agama karena apapun jawaban dari itu pasti salah karena hanya Allah sajalah yang tahu jawaban tersebut. Wallahu’alam bishowab!

 

Februari 22, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Alam Filsafat (Hermeneutika) Vs Tafsir Al Qur’an: Ghazwul Fikri Baru (Neo Mind Battling) Bag. 2

cordoba46.jpg

Imam Al Ghazali Vs Ibnu Rusydi: Babak Kedua Pertarungan Pemikiran 

Dalam penulisan pertama, penulis telah menyajikan bagaimana pertarungan pemikiran antara kaum tradisional yang di-back up oleh Imam Syafi’i dengan kaum Mukatzillah. Pertarungan pemikiran ini berlanjut dengan tampilnya filosof Ibnu Rusydi. Kini pertarungan ini semakin seru setelah Imam Al Ghazali beradu argumentasi dengan Ibnu Rusydi. Ibnu Rusydi, di Barat terkenal dengan nama Averose, adalah filosof yang begitu besar menempatkan akal sebagai acuan untuk mengintrepretasikan Al Qur’an dari pada apa yang telah dilakukan oleh Imam Syafi’i. Inilah babak pertarungan pemikiran yang begitu monumental . Disebut monumental, karena karya kedua belah pihak begitu argumentatif namun tetap saling menghormati satu sama lain secara pribadi. Mengapa demikian? Karena Imam Ghazali beragumentasi dengan karyanya tahafut al falasifah yang artinya kerancuan filsafat, bukan kerancuan filosof! Artinya yang diserang oleh beliau adalah kerancuan keilmuan filsafatnya, bukan orang /filosofnya secara pribadi. Singkat kata, karena kerancuan ilmunyalah Ibnu Rusydi telah menyimpang dari mainstream Islam.

Ibnu Rusydi yang diterima oleh Barat sebagai penerus “otak” Aristoteles, telah memberi babak kedua pertarungan seru antara alam pemikiran Yunani dengan metodologi Islam yang dibangun murni melalui Al Qur’an dan Sunnah Nabi, seperti yang telah dibangun oleh Imam Syafi’i. Dan pemikiran Imam Ghazali dalam beragumentasi dengan Ibnu Rusydi ini dan juga karya-karya beliau dalam keilmuan agama, terutama masterpiecenya Ihya Ullumuddin menjadikan dirinya sebagai hujjahtul Islam.

Imam Ibnu Taimiyyah: Penentang Alam Yunani

Dari pertarungan pemikiran antara kedua tokoh besar Islam ini, timbullah kemudian tokoh-tokoh lain di pihak kaum rasionalis dan kaum tradisional. Dan tokoh dari kaum tradisional yang begitu gencar dan gigih berargumentasi dengan kaum rasionalis ini adalah Ibnu Taimiyyah. Dalam buku beliau yang berharga yaitu Ma’arij al wushul ila ma’rifah ‘an ushuluddin wa furu’ahu qad bayyanahu ar rasul  (Tahapan-tahapan untuk Mengetahui Pokok-Pokok Agama dan Cabang-Cabangnya yang Telah Dijelaskan Rasulullah). Buku ini beliau tulis untuk menuntaskan perdebatannya dengan kaum rasionalis pada masanya.

Peran penting Imam Ghazali dan Imam Ibnu Taimiyyah adalah membatasi peran logika (baca: akal)  semata untuk mempertahankan agama, bukan untuk menentukan ajaran, apalagi hukum agama.    Artinya, akal tidak boleh mengalahkan wahyu. Pembatasan ruang gerak akal inilah yang kemudian hari “diberontak” oleh sebagain umat Islam seakan-akan “pembelengguan” ini sama apa yang terjadi di kalangan umat Nasrani Katolik. Maka timbullah gerakan “pembebasan” akal dengan terinspirasi dari gerakan “pembebasan” akal di Barat yang didominasi oleh kekuasaan  gereja Katolik.  

Imam Ahmad bin Hanbal: Sosok Teguh dalam Perang Pemikiran

Ketika Khalifah Al Ma’mun (813-833 M) memerintah, beliau mendirikan institusi yang disebut mihna. Mihna atau inkuisisi ini lebih memberi tempat bagi kaum Mu’tazilah atau rasionalis bahwa Al Qur’an adalah makhluk seperti makhluk lain. Bagi siapa saja yang menentang pendapat bahwa Al Qur’an adalah makhluk maka akan menghadapi hukuman dari sang Khalifah. Pendapat dari Khalifah bahwa Al Qur’an adalah makhluk ini maka menempatkan Al Qur’an sebagai kitab yang berada dalam ruang dan waktu. Dan dengan bahasa yang berbeda, pendapat ini kemudian dilanjutkan oleh beberapa intelektual muslim yang menyatakan Al Qur’an perlu dikoreksi karena ia telah menjadi produk sejarah. Namun, di zaman Khalifah Al Ma’mun belum sampai tahap pemikiran untuk mengkoreksi Al Qur’an karena ia adalah produk sejarah, tapi baru pada tahap kitab yang juga sebagai makhluk seperti manusia dan makhluk lainnya.

Institusi mihna yang didirikan oleh kaum mu’tazilah ini mendorong sang Khalifah untuk menyeleksi ulama siapa saja ynag mendukung pemikiran bahwa Al Qur’an itu makhluk atau bukan. Kemenangan kaum rasioanlis ini menjadi puncaknya ketika Khalifah Al Ma’mun mendapatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal menolak pendapat bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk. Dengan dorongan dari kaum Mu’tazilah, maka Imam Ahmad dipenjara. Pemenjaraan ini bertujuan agar ruang gerak pemikiran Imam Ahmad hanya terbatas dalam sel. Dalam penjara, Imam mendapatkan hukuman berupa pencambukkan di badan beliau. Namun, beliau tetap teguh pada pendapat beliau bahwa Al Qur’an bukanlah makhluk melainkan wahyu Allah yang tidak terbatas ruang dan waktu. Pendapat beliau yang kokoh dan gigih untuk menentang kaum rasionalis ini berlanjut hingga Khalifah al Ma’mun digantikan oleh Al Mu’tashim (833-842).  Dan periode mihna ini berlangsung selama lima belas tahun (833-848 M), dan selama itu pulalah Imam Ahmad dipenjara. Ketika Khalifah al Mu’tashim wafat digantikan oleh al Watsiq (842-847). Selanjutnya al Watsiq digantikan oleh Khalifah al Mutawakkil (847-861) dan akhirnya pada masa Khalifah inilah peran mihna berakhir sekaligus babak baru kekalahan kaum rasionalis. Dan Imam Ahmad wafat pada tahun 855 dengan menyaksikan kekalahan kaum rasionalis pada pendapat Al Qur’an adalah makhluk. Namun, kaum rasionalis tetap bergerak untuk mengusung pola pemikiran mereka ini yang lebih membebaskan peran akal dari dominasi Al Qur’an dan Sunnah di zaman tersebut.

Apa yang terjadi dalam periode ini telah memberikan kita bahwa kaum rasionalis pada zaman tersebut begitu gigih dalam memperjuangkan pemikiran mereka hingga menembus level pemerintahan tinggi dengan adanya mihna sebagai jaringan Islam pembebasan akal (liberal) mereka. Mihna atau  pola untuk menjaring paham rasio atas Al Qur’an ini “berhasil” dalam lima belas tahun memenjarakan Imam Ahmad.   

Selanjutnya, bagaimana babak pertarungan pemikiran ini? Ikuti artikel berikutnya!

 

 

 

          

Januari 29, 2008 Posted by | Artikel Kajian | , , , , | 1 Komentar

Alam Filsafat (Hermeneutika) Vs Tafsir Al Qur’an: Ghazwul Fikri Baru (Neo Mind Battling) Bag. 1

Pengantar 

Penulis tertantang untuk membalas balik argumentasi para pendukung alam pemikiran filsafat untuk diterapkan dalam penafsiran Al Qur’an. Banyak tokoh hebat yang telah membantah akan alam pemikiran Yunani ini untuk diterapkan dalam penafsiran Al Qur’an. Penulis menyadari bahwa ia mengikuti arus pemikiran tokoh-tokoh seperti saudara Adian Husaini, Adnin Armas, dan Syamsudin Arif, yang semuanya merupakan intelektual muda dan berbakat serta brillian. Mereka berkumpul dalam satu atap di INSIST. Penulis mengakui bahwa ia banyak belajar langsung dari karya tulis mereka baik melalui majalah ISLAMIA maupun melalui buku. Penulis ingin menjadi penyambung pena mereka untuk melawan arus pemikiran berbahaya yang sedang “in” di kalangan anak muda Islam Indonesia. Disebut bahaya karena pemikiran ini secara gradual dan sistematik akan meruntuhkan pondasi paling dasar agama Islam secara tekstual. Disebut gradual karena secara bertahap mereka menyampaikan pemikirannya ini melalui media-media yang resmi dan melalui seminar-seminar yang rutin dilaksanakan. Disebut sitematis karena ada beberapa institusi pendidikan agama yang mendukung pola pemikiran ini melalui kurikulum resmi. Jadi, sudah saatnya semua ilmuwan muslim yang berkompeten untuk turut turun gunung dan mengangkat pena untuk perang dengan mereka di medan peperangan melalui media! C’mon let’s do it in the name of Allah, now or never

Imam Sayfi’i vs Kaum Rasionalis: Prolog perang pemikiran  

al-imamasy-syafii.jpg

Imam Syafi’i ketika menulis karya master piece-nya Risalah memang dalam masa pertempuran pemikiran antara kaum Muktazilah (rasionalis) dengan kalangan tradisionalis. Risalah adalah buku pertama yang komprehensif yang mengulas tentang ushul fiqh yang sekaligus juga menghadang pola pemikiran kaum rasionalis Mu’tazilah (baca Cita Humanisme Islam, terjemahan dari karya George A. Makdisi “The Rise of Humanism”, 2005). 

Pertempuran pemikiran di zaman Imam Syafi’i masih berkisar pada persoalan pada pertanyaan apakah Al Qur’an itu makhluk atau bukan. Para mutakallimun (teolog filsufis) mengajukan pertanyaan ini dalam pola pemikiran masyarakat yang tradisional. Disebut tradisional karena mereka tidak pernah membuat pertanyaan yang mana pertanyaan itu malah membuat mereka jauh dalam hal-hal yang telah jelas dan ini telah dijalankan oleh para sahabat yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad. Imam Syafi’i ketika menulis Risalah  tidaklah secara khusus menyerang kaum Mu’tazillah, namun secara halus beliau menulis pada bagian awal pendahuluan dari bukunya: “Segala puji bagi Allah . . . Dia adalah sebagaimana Dia menyifati diri-Nya dan Dia Mahasuci dari sifat-sifat yang digambarkan oleh makhluk.”  Kalimat beliau ini secara halus menyindir pendapat kaum rasionalis yang menggambarkan kebesaran Allah dan sifat-sifat-Nya melalui spekulasi hasil pemikiran (akal) mereka. Selanjutnya beliau menulis pada akhir pendahuluan dari kitabnya :Tak ada satu pun kejadian yang dialami oleh seorang mukmin kecuali terdapat dalam Al Qur’an, petunjuk tentang hal itu yang mengarahkannya kepada jalan benar.”

Maksud dari kalimat beliau adalah jelas yaitu segala petunjuk yang dibutuhkan manusia telah terdapat dalam Al Qu’ran sehingga mereka tidak perlu mencari petunjuk lain selain Al Qur’an (sebagai the ultimate prime source of law). Adapun kalangan rasionalis lebih mendahulukan spekulatif pemikiran mereka dari pada merujuk ke Al Qur’an tentang berbagai hal.

Perbedaan tajam antara Imam Syafi’i dan kaum rasionalis adalah Imam Syafi’i membuat metodologi yang begitu kokoh di kalangan tradsionalis untuk menjalani Islam dengan tunduk (menyerah tanpa syarat) terhadap semua hukum dan keinginan Allah secara baik. Dan sumber hukum Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Adapun kaum rasionalis yang dibawa oleh Mu’tazilah, lebih membicarakan apakah Tuhan itu dan siapakah Dia.  Atau lebih mempertanyakan tentang keberadaan Tuhan dari pada bagaimana menjalankan agama Islam dalam kerangka hukum yang telah ditentukan oleh Allah dengan bantuan pemahaman menjalankan hukum tersebut melalui metodologi yang dirancang oleh Imam Syafi’i.

Kaum Mu’tazilah lebih suka memasuki bidang debatble yang susah dan tidak mungkin mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pada berbicara tentang bagaimana sholat yang benar, mengeluarkan zakat sesuai kadar kewajibannya, atau bagaimana menjalankan perdagangan yang bebas dari riba dan penipuan.  Mereka lebih suka memikirkan tentang Tuhan dari pada makhluk-Nya. Dalam hal ini ada sebuah celoteh kecil antara Bogok dan Raysid. Rasyid yang baik hati bertemu dengan seseorang yang bernama Bogok. Bogok tidak mengenal siapa itu Rasyid sebelumnya. Padahal Rasyid adalah tokoh terhormat di kota tersebut. Maklumlah Bogok ini tidak memiliki media apapun untuk diakses, meski ia dapat baca-tulis.

Bogok yang seorang tuna wisma dan miskin papa diminta oleh Rasyid untuk tinggal di rumah mewahnya secara gratis. Syaratnya sederhana; tinggal di dan merawat rumah mewah tersebut sesuai aturan yang telah dibuat oleh Rasyid. Hal-hal tentang biodata Rasyid atau pun aturan-aturan lainnya, Bogok dapat membacanya melalui buku induk yang ada di ruang tamunya.  Tetapi, alih-alih menjalankan apa yang diminta Rasyid, Bogok malah bertanya tentang hal-hal pribadi Rasyid.

Rasyid : Gok, kamu tinggal di rumahku ya. Rawat dan hiduplah sesuai aturan yang ada di dalam rumahku, seperti matikan lampu kalau mau tidur dan nyalakan AC seperlunya. Matikan kran bila tidak lagi menggunakan air dan jangan lupa kunci pintu sebelum tidur.

Bogok : Baik pak, tapi Bapak ini siapa ya, maksud saya Bapak kerjanya di mana? Istri Bapak berapa, berapa kali Bapak berhubungan badan dengan istri, sekali dalam seminggu, atau dua kali dalam seminggu. Kok Bapak baik sekali pada saya ya, Bapak ini orang kaya atau tidak sih, apakah Bapak bergaji lima juta sebulan atau semilyar, dan berapa sih nomer rekening Bapak, boleh dong saya tahu, kan saya tinggal di rumah Bapak ini. Dan omong-omong itu buku di atas meja yang ada di ruang boleh dirubahkan pak, kan saya yang menempati rumah Bapak. Boleh dong saya mengganti sesuai keinginan saya. Kan saya sudah berhak menempati rumah ini?

Kira-kira analogi cerita di atas adalah Bogok ini (singkatan dari bodoh dan goblok) adalah kita manusia biasa yang berani bertanya  tentang wilayah pribadi (private) Allah. Pertanyaannya adalah pantaskah Bogok yang diminta  untuk tinggal di rumah mewah Rasyid secara gratis berani bertanya tentang hal-hal pribadi Rasyid? Pasti jawabannya sangat-sangat tidak pantas bahkan dapat dikatakan sangat kurang ajar dan tidak bersyukur. Lha wong  sudah ditolong, tinggal di rumah mewah secara gratis malah bertanya yang enggak-enggak tentang sang pemilik rumah.

Demikianlah kita. Adalah sangat begitu kurang ajar apabila kita bertanya tentang wilayah private Tuhan. Baik itu seperti bagaimana tangan Tuhan, apa maksud Tuhan dari balik kejadian takdir atau mengapa Tuhan tidak dapat dilihat. Banyak hal-hal yang merupakan wilayah private Allah yang tidak mungkin kita untuk mengajukan pertanyaan tersebut, meski ada “godaan” yang membesit di otak kita secara nakal untuk bertanya (baca: bisikan setan).

Sama kurang ajarnya kita dengan Bogok apabila ada pertanyaan tentang wilayah private Allah. Dan inilah yang dilakukan oleh kaum Mu’tazilah. Mereka berasio seakan-akan semua pertanyaan dapat diajukan untuk mendapatkan jawaban tentang “pemilik rumah” ini. Padahal “rumah” (baca: dunia) ini kita tinggal di dalamnya secara gratis dan kita hanya merawatnya dengan baik sesuai aturan sang pemilik rumah.

Inilah yang ingin dicegah Imam Syafi’i secara cerdas melalui buku beliau Risalah. Tujuan penulisan Risalah adalah untuk menangkis sistem pengetahuan agama yang mencoba keluar dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Sistem yang berkembang subur di zaman tersebut adalah pembebasan (baca: liberal) akal terhadap Al Qur’an dan Sunnah Nabi dari apa yang telah dijalankan baik oleh para sahabat sebagai pengikut pertama Nabi. Kebebasan akal ini (liberal) memberi mereka “ruang baru” yang tidak pernah ditemui di zaman sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, lebih-lebih Umar bin Khattab. “Ruang baru” tersebut adalah mereka lebih berbasis pada akal untuk menjawab segala pertanyaan “lagi ngetren” yang sejatinya dilarang untuk diajukan pertanyaan tersebut dari pada merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Akibatnya adalah banyak hal-hal yang membuat mereka terperosok ke dalam wilayah “lingkaran setan” yaitu pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti.

Bukan tidak ada jawaban pasti tetapi pertanyaan itulah yang salah untuk diajukan menjadi sebuah wacana dialektika. Jawaban tentang Tuhan pasti ada, dan hanya Dialah yang mengetahui jawaban tersebut karena pertanyaan private hanya Tuhan sendiri yang Mahatahu jawabannya. Tetapi kaum rasionalis mencoba untuk masuk wilayah gelap /  dark zone bagi akal kita. Ibarat sebuah black hole, jawaban tersebut hanya diketahui oleh sang pembuat akal kita.

Perang pemikiran antara kaum Mu’tazilah dengan pendukung Imam Syafi’i ini membuka babak baru dalam Islam bahwa ada sekelompok umat Islam yang mencoba memasuki wilayah yang sudah diperingkatkan Nabi untuk tidak memasuki wilayah tersebut, meski akal kita secara nakal terbesit pertanyaan-pertanyaan tentang hal tersebut (baca: godaan setan).

Apa yang terjadi di kaum Mu’tazilah telah lebih dulu diabadikan dalam Al Qur’an akan pemikiran yang berbasis akal bebas oleh kaum Yahudi. Pertanyaan yang ‘nakal’ telah diajukan oleh kaum Bani Israil di zaman Nabi Musa. Secara ‘nakal’ mereka mencoba untuk menjadi apa yang sekarang dikenal dalam aliran filsafat sebagai empiris, pengetahuan (baca: keyakinan) dicapai melalui pengalaman. Mari perhatikan ayat berikut:

 وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً

yang artinya:  Dan (ingatlah) ketika kamu (bani Israil) berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”. (AL Baqarah 55).

Model pemikiran empiris ini telah terjadi lebih dahulu dari pada apa yang dilakukan oleh para filosof Yunani ataupun teori empiris yang disusun oleh filosof Barat. Bani Israil tidak akan beriman (percaya) akan keberadaan Tuhan sebelum melihat (baca: pengalaman melihat secara langsung) Tuhan yang selama ini telah menolong mereka dari rezim Fir’aun. Bakat Bani Israil untuk menjadi filosof ‘nakal’ dengan bermain-main dalam pertanyaan dan keinginan melalui pembebasan akal ditunjukkan lagi dalam surat yang sama di ayat yang berbeda tentang perintah untuk menyembelih sapi betina. 

Perintah dari Tuhan sangat sederhana. Potong seekor sapi betina. Namun, Bani Israil ‘berfilsafat’ dengan mengajukan pertanyaan tentang sapi betina tersebut. Perintah sederhana dibuat ruwet oleh pertanyaan yang tidak perlu dan mengesankan bermain-main dalam perintah agama. Akibatnya? Mereka hampir tidak dapat menjalankan perintah hasil dari pertanyaan mereka sendiri. Sebuah berfilsafat konyol yang membuat diri sendiri susah. Dan ini ciri dari apa yang sekarang disebut aliran rasionalis.  Mengapa demikian? Karena pemotongan sapi betina itu tidak dapat diterima oleh akal mereka. Mengapa sapi betina, lalu bagaimana ciri-ciri sapi betina itu bila itu perintahnya? Inilah ciri khas orang yang ‘bergaya filosofi’ yang tidak perlu.

Perintah Tuhan jelas, tapi dicoba untuk dirasiokan dan akhirnya menjadi susah sendiri. Selengkapnya baca Al Baqarah ayat 67-71. Mengapa mereka mencoba berfilsafat dalam hal ini. Sederhana saja jawabannya. Mereka tidak ingin ketahuan akan siapa pembunuh seseorang dalam kaum mereka.  Berdalih dengan berfilsafat untuk tidak menjalankan perintah agama agar tidak ketahuan belang pembunuhnya. Adakah ciri orang seperti ini di zaman kita sekarang? Jawabannya ada di tangan Anda.

Babak awal kaum rasionalis dalam Islam yang diusung oleh kaum Mu’tazilah berlanjut hingga sekarang dengan nama dan label yang beragam. Intinya hanya satu: pembebasan (liberal) akal terhadap apa yang sudah dibakukan oleh Allah dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Pembebasan ini, menurut mereka, sebuah keniscayaan kita sebagai manusia berakal. Dengan pembebasan akal ini, menurut mereka, maka maksud Tuhan akan lebih jelas dan (kalau perlu) benar atau salahnya ditentukan oleh akal kita sebagai penghormatan kita sebagai makhluk berakal. 

Bagaimana babak baru ini berlangsung selanjutnya? Jawabannya silakan tunggu artikel selanjutnya.

    

Januari 28, 2008 Posted by | Artikel Kajian | , , , , | 1 Komentar

Pemikiran Nyeleneh, Ah Anda Memang Jagonya!

Ulil Abshar AbdallahArtikel saudara Ulil Abshar Abdallah (selanjutnya disingkat UAA) pada 7-01-2008 dengan judul “Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam” dalam situs JIL adalah tidak mencengankan. Memang demikianlah adanya saudara kita,UAA. Ia telah memposisikan dirinya (entah memang sengaja atau tidak) melawan arus apa yang sudah menjadi pemahaman umum umat Islam. Dalam artikelnya tersebut, UAA memberi 11 doktrin yang tidak perlu. Penulis hanya menyoroti poin ke-3 dari artikel UAA, karena poin ini sedang hangat terjadi di Indonesia, baik itu kasus Ahmad Musaddiq yang mengaku sebagai Nabi maupun kasus Lia Eden dan Ahmadiyyah. Poin ketiga dari artikel UAA selengkapnya sebagai berikut:
“Doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu. Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi?”
Membaca tulisan UAA di atas kita wajib beragumentasi dengan baik dan tidak perlu emosi hingga kita lepas kontrol. Kita wajib marah, namuh terkendali. Argumen untuk hal ini adalah apakah saudara UAA percaya dengan ayat ke-40 dari Surat Al Ahzab?:
مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ yang artinya “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi”
Jika saudara UAA memiliki tafsir yang benar-benar jitu membantah isi dari ayat di atas maka itu adalah argumentasi yang “ilmiah” daripada sekedar “berkoar” di situs “kandang”-nya tetapi tidak dapat memberikan dasar argumentasinya tersebut.
Tidak ada tafsiran lain tentang ayat di atas bahwa ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad SAW. Ayat ke-40 dari Al Ahzab termasuk ayat yang jelas dan tidak bermakna bersayap (ayat muhkamat) . Jika saudara UAA memang beragumentasi bahwa ada boleh ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad maka ayat di atas harus “dipatahkan” argumentasinya dengan ayat Al Qur’an pula atau dengan hadits yang Shahih. Jika saudara UAA tidak memiliki argumentasi dengan dukungan data-data ayat atau hadits maka perlu dipertanyakan akan metodologi keilmuannya akan hal ini. Saya yakin dan percaya saudara UAA memiliki ilmu yang banyak dan dapat dipertanggung jawabkan secara metodologi. Tetapi meluncurkan argumentasi bahwa menggelikan jika tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad tanpa data-data akurat, maka hal yang menggelikan selevel saudara UAA tidak memiliki dasar argumentasinya. Jika menganalisa pola pemikiran saudara UAA maka tidaklah mengejutkan jika saudara UAA tidak menerima kitab suci Al Qur’an sebagai kitab yang “steril dari pengkoreksian”.  Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan saudara UAA mereduksi atau menurunkan kesucian Al Qur’an dengan menyatakan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang terbatas oleh ruang dan waktu. Dengan kalimat yang sederhana, Al Qur’an, seperti buku-buku lain, harus dikritisi dan dikoreksi (bila perlu) karena ia telah menjadi produk bersejarah. Anda terkejut dan marah? Ah, kita tidak boleh terkejut dan marah bila kita teringat akan sabda Nabi bahwa nanti ada zaman di mana umat Islam akan mengikuti pola pemikiran dan hidup kaum Yahudi dan Nasrani selangkah demi selangkah hingga keluar dari Islam. Berganti agama? Tidak. Ia tetap beragama Islam statusnya secara lahiriyah, tetapi secara ruhaniyah ia telah berganti agama. Nama boleh jadi jati diri Islam; Abdullah, Muhammad, Abdur Rahman, dll., dan dalam KTP tercantum beragama Islam, tetapi pola pemikiran dan pola hidup telah menjadi gaya Yahudi dan Nasrani. Apa yang terjadi pada saudara UAA persis apa yang terjadi dalam agama Nasrani. Timbulnya sekte Protestan (demikian orang Katolik menyebutnya) karena mereka mengkritisi kitab Injil dan kepasturan. Kitab Injil mereka kritisi dan mereka mengklaim harus ada pengkoreksian terhadap kitab suci ini. Tanpa disadari, mereka “menguliti, mengkritisi, mengkoreksi lalu memperbaiki kitab Injil dengan sistem “update”, tapi mereka tetap dalam agama tersebut. Artinya, mempertanyakan kesucian agama mereka melalui kitab suci sendiri tapi mereka tetap dalam agama tersebut yang menurutnya tidak suci lagi kitab sucinya! Aneh tapi nyata!.
Dan demikianlah UAA. Mengkritisi Al Qur’an dengan mempertanyakan kesuciannya tetapi menggunakan Al Qur’an sebagai tameng bahwa ia masih berstatus agama Islam. Kalau boleh disebut UAA adalah “Protestian Islam”. Pemprotes masalash prinsipil dalam agama Islam tetapi tetap mengaku sebagai beragama Islam. Ah, tidak ada bedanya dengan kaum protestan dalam agama Nasrani. Namun, bukan berarti logika terbaliknya kita adalah kaum Katolik untuk hal ini. Kitab Injil dikritisi memang bermasalah dalam penyusunan dan penulisannya semenjak awal. Tidak demikian dengan Al Qur’an. Tetapi saudara UAA mengambil metodologi yang telah berlangsung di kaum Nasrani untuk diterapkan dalam agama Islam. Sungguh metodologi yang salah kaprah. Berlainan obyek dan pisau tapi digunakan untuk obyek yang dianggap setara. Injil dan Al Qur’an berbeda tapi ingin menggunakan pisau yang sama.  Artinya ingin membelah batu permata intan, tapi menggunakan pisau pemotong ayam. Kejadian yang ada adalah pisau patah tapi menyalahkan batu Intan yang terkenal keras dan padat! Metodologi salah tapi menyalahkan Al Qur’an yang menurut UAA yang tidak sesuai dengan pemikirannya sendiri. Pola pemikiran hermeuneutik (pola pemikiran interpretasi ala Yunani) diterapkan untuk Al Qur’an, bukan pola pemikiran tafsir yang sudah baku.  Kekacauan pola pikir lalu menyalahkan Al Qur’an. Ah, aya aya wae!Kalau boleh mengutip kalimat wapres Republik Mimpi kita, begitulah saudara kita UAA.  Semoga Allah memberi hidayah untuk kembali ke jalan pemikiran yang lurus untuk saudara UAA. Dan hanya kepada Allah sajalah penulis memohon perlindungan dan pertolongan. Allahu Akbar!

Januari 24, 2008 Posted by | Artikel Argumentasi | , , , | 7 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.