NeoRevo’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pemikiran Nyeleneh, Ah Anda Memang Jagonya!

Ulil Abshar AbdallahArtikel saudara Ulil Abshar Abdallah (selanjutnya disingkat UAA) pada 7-01-2008 dengan judul “Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam” dalam situs JIL adalah tidak mencengankan. Memang demikianlah adanya saudara kita,UAA. Ia telah memposisikan dirinya (entah memang sengaja atau tidak) melawan arus apa yang sudah menjadi pemahaman umum umat Islam. Dalam artikelnya tersebut, UAA memberi 11 doktrin yang tidak perlu. Penulis hanya menyoroti poin ke-3 dari artikel UAA, karena poin ini sedang hangat terjadi di Indonesia, baik itu kasus Ahmad Musaddiq yang mengaku sebagai Nabi maupun kasus Lia Eden dan Ahmadiyyah. Poin ketiga dari artikel UAA selengkapnya sebagai berikut:
“Doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu. Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi?”
Membaca tulisan UAA di atas kita wajib beragumentasi dengan baik dan tidak perlu emosi hingga kita lepas kontrol. Kita wajib marah, namuh terkendali. Argumen untuk hal ini adalah apakah saudara UAA percaya dengan ayat ke-40 dari Surat Al Ahzab?:
مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ yang artinya “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi”
Jika saudara UAA memiliki tafsir yang benar-benar jitu membantah isi dari ayat di atas maka itu adalah argumentasi yang “ilmiah” daripada sekedar “berkoar” di situs “kandang”-nya tetapi tidak dapat memberikan dasar argumentasinya tersebut.
Tidak ada tafsiran lain tentang ayat di atas bahwa ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad SAW. Ayat ke-40 dari Al Ahzab termasuk ayat yang jelas dan tidak bermakna bersayap (ayat muhkamat) . Jika saudara UAA memang beragumentasi bahwa ada boleh ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad maka ayat di atas harus “dipatahkan” argumentasinya dengan ayat Al Qur’an pula atau dengan hadits yang Shahih. Jika saudara UAA tidak memiliki argumentasi dengan dukungan data-data ayat atau hadits maka perlu dipertanyakan akan metodologi keilmuannya akan hal ini. Saya yakin dan percaya saudara UAA memiliki ilmu yang banyak dan dapat dipertanggung jawabkan secara metodologi. Tetapi meluncurkan argumentasi bahwa menggelikan jika tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad tanpa data-data akurat, maka hal yang menggelikan selevel saudara UAA tidak memiliki dasar argumentasinya. Jika menganalisa pola pemikiran saudara UAA maka tidaklah mengejutkan jika saudara UAA tidak menerima kitab suci Al Qur’an sebagai kitab yang “steril dari pengkoreksian”.  Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan saudara UAA mereduksi atau menurunkan kesucian Al Qur’an dengan menyatakan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang terbatas oleh ruang dan waktu. Dengan kalimat yang sederhana, Al Qur’an, seperti buku-buku lain, harus dikritisi dan dikoreksi (bila perlu) karena ia telah menjadi produk bersejarah. Anda terkejut dan marah? Ah, kita tidak boleh terkejut dan marah bila kita teringat akan sabda Nabi bahwa nanti ada zaman di mana umat Islam akan mengikuti pola pemikiran dan hidup kaum Yahudi dan Nasrani selangkah demi selangkah hingga keluar dari Islam. Berganti agama? Tidak. Ia tetap beragama Islam statusnya secara lahiriyah, tetapi secara ruhaniyah ia telah berganti agama. Nama boleh jadi jati diri Islam; Abdullah, Muhammad, Abdur Rahman, dll., dan dalam KTP tercantum beragama Islam, tetapi pola pemikiran dan pola hidup telah menjadi gaya Yahudi dan Nasrani. Apa yang terjadi pada saudara UAA persis apa yang terjadi dalam agama Nasrani. Timbulnya sekte Protestan (demikian orang Katolik menyebutnya) karena mereka mengkritisi kitab Injil dan kepasturan. Kitab Injil mereka kritisi dan mereka mengklaim harus ada pengkoreksian terhadap kitab suci ini. Tanpa disadari, mereka “menguliti, mengkritisi, mengkoreksi lalu memperbaiki kitab Injil dengan sistem “update”, tapi mereka tetap dalam agama tersebut. Artinya, mempertanyakan kesucian agama mereka melalui kitab suci sendiri tapi mereka tetap dalam agama tersebut yang menurutnya tidak suci lagi kitab sucinya! Aneh tapi nyata!.
Dan demikianlah UAA. Mengkritisi Al Qur’an dengan mempertanyakan kesuciannya tetapi menggunakan Al Qur’an sebagai tameng bahwa ia masih berstatus agama Islam. Kalau boleh disebut UAA adalah “Protestian Islam”. Pemprotes masalash prinsipil dalam agama Islam tetapi tetap mengaku sebagai beragama Islam. Ah, tidak ada bedanya dengan kaum protestan dalam agama Nasrani. Namun, bukan berarti logika terbaliknya kita adalah kaum Katolik untuk hal ini. Kitab Injil dikritisi memang bermasalah dalam penyusunan dan penulisannya semenjak awal. Tidak demikian dengan Al Qur’an. Tetapi saudara UAA mengambil metodologi yang telah berlangsung di kaum Nasrani untuk diterapkan dalam agama Islam. Sungguh metodologi yang salah kaprah. Berlainan obyek dan pisau tapi digunakan untuk obyek yang dianggap setara. Injil dan Al Qur’an berbeda tapi ingin menggunakan pisau yang sama.  Artinya ingin membelah batu permata intan, tapi menggunakan pisau pemotong ayam. Kejadian yang ada adalah pisau patah tapi menyalahkan batu Intan yang terkenal keras dan padat! Metodologi salah tapi menyalahkan Al Qur’an yang menurut UAA yang tidak sesuai dengan pemikirannya sendiri. Pola pemikiran hermeuneutik (pola pemikiran interpretasi ala Yunani) diterapkan untuk Al Qur’an, bukan pola pemikiran tafsir yang sudah baku.  Kekacauan pola pikir lalu menyalahkan Al Qur’an. Ah, aya aya wae!Kalau boleh mengutip kalimat wapres Republik Mimpi kita, begitulah saudara kita UAA.  Semoga Allah memberi hidayah untuk kembali ke jalan pemikiran yang lurus untuk saudara UAA. Dan hanya kepada Allah sajalah penulis memohon perlindungan dan pertolongan. Allahu Akbar!

Januari 24, 2008 - Posted by | Artikel Argumentasi | , , ,

7 Komentar »

  1. pemikiran yang briliant pak,itulah nasib umat sekarang dari segi bahasa dan argument begitu mempesona bahkan menghipnotis melalui gaya bicara yang fluently.tapi itu berlaku bagi yang dangkal aqidahnya atau hampa sama sekali.kasus diatas contohnya hanya dengan satu ayat dari qur’an alahzab:40 gugur semua argument yang mungkin tlah disiapkan dapat menarik simpati dan sorak gemuruh.
    kita akan bangga jika keturunan kita dapat berbicara ttg agama sesuai dgn nash qur’an dan sunnah pemahaman para safus shalih. bukan menurut pendapat saya atau sesuai dgn tatanan sosialisasi zaman, yang akhirnya seperti UAA itulah.
    membuat sensasi/nyeleneh dalam beragama itu akan mudah dikenal hanya bagi kalangan awam.
    Ilmu itu wajib hukumnya dalam rangka menambah ketaatan pada Allah, rasul dan untuk kemaslahatan kaum muslimin, dan berdosa jika bermaksiat. salah satunya pendapat2 UAA dkk.
    mari kita berlindung dari kejahatan jiwa2 kami dan perbuatan buruk amal kami.

    Komentar oleh Abu Abian | Januari 30, 2009 | Balas

  2. Jang ulil ini memang hebat dalam menusuk islam dari dalam.sesuai dgn pernyataannya bahwa semua agama sama saya menyarankan supaya jang ulil jangan mengaku sebagai muslim lagi.atau kalo perlu bikin agama baru dengan ulil sebagai nabinya sy jamin umat muslim tidak akan protes lagi

    Komentar oleh Jaka | September 24, 2009 | Balas

  3. aku mungkin terlambat, tapi tidak ada salahnya aku ikut menyumbang komentar yang secara umum kutujukan pada generasi muda. Bahwa manusia hidup itu perlu pedoman dalam hidup, pertanyaannya ialah pedomannya itu apa? Banyak pedoman hidup di muka bumi ini, seperti paganisme, komunisme, animisme, dinamisme,soekarnoisme, leberalisme dan isme-isme yang lain termasuk pancasilaisme. Hanya perlu diketahui bahwa semua isme-isme tersebut diatas didasarkan pada otak (baca : akal) manusia yang terbatas, yang terpenjara dan hanya bisa mengetahui dunia luar lewat 5 jendela yaitu : penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, pengecap atau yang disebut panca indra, dan indra-indra manusia itupun sangat terbatas. Misal indra penciuman manusia kalah jauh dengan indra penciuman anjing; kita tahu yang namanya gelombang radio tapi pendengaran kita tidak mampu menangkap suara dari gelombang tersebut kalah jauh dari hewan yang bernama kelelawar. Itu hanya sekedar contoh, contoh-contoh yang lain masih banyak dan tak terhitung. Maka dari itu kita harus berpegangan dalam hidup dengan pedoman yang kokoh yang bersumber dari Pencipta Alam Semesta (Allah SWT)yaitu wahyu (baca : Al Qur’an). Jika berpegangan dengannya (Al Qur’an) niscaya akan benar jalan hidupnya dalam kondisi apapun dalam hidup (susah, senang, miskin, kaya), itu jaminan bukan dari saya tapi dari Sang Pencipta. Tapi, (ini tapi) bila berpaling menjauh dari pedoman wahyu maka akan diberi kehidupan yang sempit dan kelak masa depannya akan suram (buta).., contohnya ya si ulil itu, kasihan dia terombang-ambing oleh otaknya sendiri yang dangkal (saya kira). Sudah dari kecil tidak dikenalkan Al Qur’an, ya aku kira dia belajar Al Qur’an tapi hanya belajar membaca saja, itupun dia ditakut-takuti (di doktrin) kalau megang Al Qur’an harus begini-begitu, jangan memahami Al Qur’an kecuali harus menguasai 12 fan keilmuan (nawhu, shorof, bayan, ma’ani, badi’, fiqh, ushul fiqh dll), sehingga pusing dia jadinya, mau paham Al Qur’an kok ribet amat, itu beberapa doktrin-doktrin yang dialami si ulil waktu kecil (kan dia tumbuh disekitar orang-orang agamis (baca : pondok pesantren tradisiUnil). Eh begitu menginjak remaja dia dapat kesempatan (karena berotak encer (baca : cerdas) belajar Islam di Luar Negeri (Amrik), dicekoki dia dengan ilmu-ilmu Islam versi orientalist, langsung deh seperti tanah kering disiram air (langsung meresap tuh air) jadilah dia seperti yang sekarang kita saksikan, kasihan ya.. dia, mudah-mudahan dia bisa “eling” dan tobat atas apa yang telah keluar dari krongkongannya. Kalaulah dia tidak berkoar tentulah ‘agak’ lebih baik, karena kalau tidak bisa bicara (menulis) yang benar lebih baik cicing wae, mengenai hal yang didalam hati urusan masing-masing, hanya Allah dan dianya yang tahu. Ya Allah ampuni aku atas dosa-dosaku dan kedua orang tuaku serta orang-orang mu’min, ampunilah hal-hal yang terlalu dalam segala urusan kami. Aamiin

    Komentar oleh abdul muqti | Oktober 9, 2009 | Balas

  4. Kita mesti sepakat dengan pemikiran sahabat Ulil Abshar Abdalla. Beliau adalah salah satu pembaharu di Indonesia

    Komentar oleh M. Hamdan Maualana Sq | Juni 10, 2010 | Balas

  5. aku amat sangat seyuju dg mr ulil .ulil tlah membuka kesesatan logika berfikir moslim indonesia.aku barsyahadat dg sepenuh hati pada Allah n kerasulan muhammadSAW.dan aku bersaksi bahwa muhammad SAW pasti bukan nabi terakhir yg turun ke dunia.wajib kita yakini bahwa manusia sekarang terlalu bodoh memahami setiap kata.tolong hapus doktrin berfikir bule pada anda muslimin indonesia

    Komentar oleh bambang eko | Juli 4, 2010 | Balas

  6. jadi kepingin masuk organisasi JIL (tapi bukan pemikirannya, ogah ah, gua udah tobat). Trus mengobrak-abrik pemikiran orang2 JIL dengan metode mereka sendiri.. :)

    Komentar oleh Jose Muhammad di Medan | Januari 17, 2012 | Balas

  7. testimoniku utk bang UUA, yg telah berusaha mendoktrinkan bahwa kalimat “nabi muhammad sebagai nabi terakhir” adalah kurang perlu.

    hebbaattt.. hehe.. Hebat abang, ayo tepuk tangan utk bang UUA..

    Jadi, bang UUA ini orangnya saya kenal. Masih abangan saya. Menurut saya dia pintarnya lumayanlah. Salah satu karyanya dia bisa buat pesawat spt habibie, namanya Pesawat Ulang Alik. Dia juga penemu android, pengembang komputer dunia (intel), menemukan varietas unggul tanaman, dan peraih nobel perdamaian, fisika, biologi, matematika, filsafat, dan.. hmmm apa ya.. Teori2 dakwahnya juga hebat, langsung diterima masyarakat luas, tanpa ada yg protes. Ini yg penting. Semua orang langsung terima, meresap di dada. Ini tanda ia mengerti psikologi massa dan komunikasi efektif. Hmmm apalagi ya. Oh ya, menurut saya, dia tidak diperlukan di indonesia. Itulah dia. wkwkwkwwkkwkw… lawak-lawak kulihat dirimu bang :)

    maaf ya bang UUA kalo abang baca, tapi kita sudah sepakat utk saling lapang dada… Dan bagiku abang masih “anak kemarin sore”. No offense.

    kesimpulan utk pembaca. Hanya orang2 tolol yg percaya fatwa anak kemarin sore.

    Komentar oleh Jose Muhammad di Medan | Januari 17, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.