NeoRevo’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Alam Filsafat Vs Tafsir Al Qur’an: Gazwul Fikri Baru (Neo Mind Battling) Bag. 3

aristoteles_busto1.jpgal-quran.jpgAlam pemikiran Yunani yang telah menyebar di kalangan umat Islam bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi ilmu ini dapat membantu dalam menarik kesimpulan yang benar di satu sisi lain ia ternyata membawa ‘ideologi’ yang sejatinya sangat berbeda dengan Islam. Alam pemikiran filsafat bermula dari pertanyaan, yang kemudian jawaban dari pertanyaan tersebut dicari, dikonsepkan lalu kembali diujikan lewat pertanyaan berikutnya.
Al Kindi, sebagai bapak filosof muslim pertama, yang berjasa membawa alam pemikiran ini ke dunia Islam. Hanya saja dalam perkembangannya, alam pemikiran Yunani ini menjadi ‘racun’ ketika siapa saja pengolahnya terjebak dalam dunia rasional. Artinya, ia lebih mengandalkan kemampuan akalnya untuk menjawab pertanyaan yang ada, baik dari dirinya sendir atau dari luar. Penyelesaian masalah (baca: mencari jawaban) dari pertanyaan inilah yang membawa seseorang terjebak dalam dunia rasio dan empiris bila ia tidak memegang erat-erat Al Qur’an dan Al Hadits secara mutlak. Artinya, kepercayaan terhadap Al Qur’an harus mutlak dari pada mengikuti pola pemikiran yang didasari dari filsafat. Setiap jawaban yang ‘menganggu’ pemikiran kita, harus dipulangkan kembali kepada kebenaran sejati dari Al Qur’an.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa sains pada hari ini berpijak pada filsafat Yunani. Dan sains ini menghasilkan kebenaran relatif yang artinya dalam masa-masa selanjutnya kebenaran ini boleh jadi sebuah kesalahan yang perlu diperbaiki. Dan dalam filsafat, semua pemikiran harus berawal pada skeptis atau keraguan. Artinya, semua yang ada di dunia ada masih diragukan kebenarannya hingga ada jawaban filsafati yang memuaskan (ingat kepuasan adalah kata lain dari sifat hawa nafsu) bahwa hal itu bisa diterima.
Relatif dan skeptis inilah yang jelas-jelas bertentangan dengan konsep Islam. Ketika berbicara tentang hal-hal yang telah mutlak dalam Islam, maka Islam hanya memberi dua pilihan: percaya atau tidak, atau dengan bahasa lain: Beriman atau tidak. Hal ini disebabkan Al Qur’an diturunkan untuk diimani. Dan jika ada yang tidak beriman bahwa Al Qur’an itu wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi melalui malaikat Jibril maka Islam tidak memaksa orang tersebut untuk percaya/beriman. Ia malah diajak untuk berdialog dengan membebaskan dirinya untuk tidak membenci Islam terlebih dahulu. Jika ia telah tertanam kebencian lebih dahulu, maka sulit mencapai dialog terbuka untuk mencapai ‘kesepakatan-kesepakatan’ yang sama. Jika dialog tanpa kebencian ini ada, maka ‘kesepakatan untuk berbeda’ ini akan sama-sama dihormati kedua belah pihak, seperti yang dicontohkan oleh Nabi dalam piagam Madinah. Yahudi, Nasrani dan Islam beda dalam ideologi tapi sepakat dalam satu payung piagam Madinah dalam membangun civil society.
Hanya saja, dalam Islam ada hal-hal yang dapat didialogkan untuk mencapai ‘sepakat untuk sama’ dan ada yang tidak dapat didialogkan . Dan ada yang dapat didiaologkan untuk ‘sepakat untuk tetap berbeda selamanya’. Dan sayangnya, ada sebagaian umat Islam yang masuk dalam hal-hal yang sudah jelas dan mutlak (qot’i) untuk didialogkan dengan konsep dari luar untuk sampai pada ‘sepakat untuk sama’. Yang dimaksud ‘sepakat untuk sama’ adalah bahwa dalam Islam itu ternyata sama apa yang ada di agama lain, dalam hal ini Nasrani.
Sepakat untuk sama yang mereka inginkan adalah bahwa Al Qur’an itu sama seperti Injil yang perlu dikritisi secara ilmiah (baca: dengan sains). Bila Injil bisa dikritisi mengapa Al Qur’an tidak? Begitulah kira-kira pertanyaan sederhananya dari mereka. Mereka ingin sepakat bahwa Al Qur’an dapat dikritisi melalu pisau bedah alam pemikiran Yunani, Hermeneutika.
Ada di antara muslim Indonesia yang ingin mendialogkan (mewacanakan) hal-hal yang qot’i dengan mengambil metodologi dari luar Islam. Mereka beranggapan bahwa Al Qur’an perlu dikritisi untuk mencapai keyakinan yang lebih kuat melalui pisau bedah hermeneutika.
Untuk memberi contoh karya kritis terhadap Injil, penulis dapat memberi contoh kepada Anda melalui buku Kritik Bibel, sebuah buku terjemahan dari karya Baruch Spinoza, Tractatus Theologico-Politicus. Baruch Spinoza, seorang filosof dan teolog Yahudi, menyatakan bahwa kebebasan berpikir tidak membahayakan iman dan negara. Dengan konsep kebebasan berpikir inilh ia mencoba melepaskan belenggu dirinya untuk mengkritisi Injil dengan tiga pertanyaan skeptis utama untuk dibahas. Yang pertama berkaitan dengan kebahasaan dan bahasa sang pemakai dalam penulisan Injil. Yang kedua berkaitan dengan ayat-ayat untuk dikelompokkan secara tematis dan sistematis. Dan juga mana yang jelas dan tidak jelas. Yang dimaksud jelas adalah jelas menurut konteks kalimat bukan menurut logika. Dan yang ketiga adalah berkaitan dengan latar belakang sejarah / riwayat penulis Injil.
Injil/Bibel dikritisi oleh sebagian umat Nasrani memang dirasakan perlu oleh mereka. Hal ini sebabkan sejarah penyusunan Injil yang memang penuh dengan masalah. Maka diantara mereka ada yang mencoba untuk menganalisa melalui metodologi hermeneutika untuk mencapai kebenaran yang hakiki. hal ini disebabkan Injil yang ada sekarang ini adalah “wahyu Tuhan yang diinspirasikan kepada manusia.” Oleh karenanya, Injil merupakan teks karya manusia yang mana manusia, secara fitrah, pasti memiliki kesalahan-kesalahan. Dan tugas utama dari hermeneutika adalah untuk memahami teks sebagai mana dimaksudkan oleh para penulis teks itu sendiri. Selanjutnya, timbullah penafsiran-penafsiran yang memberikan kebenaran relatif. Dimaksud relatif, karena metodologi ini berasal dari Yunani, maka kebenaran itu tetaplah relatif selama menggunakan metodologi ini. Dengan demikian, tidak ada kebenaran mutlak dalam Injil, karena penafsiran Anda dan Saya yang relatif tadi.
Ini semua ingin diaplikasikan pada Al Qur’an. Dan inilah perang pemikiran baru di abad ini yang dihadapi umat Islam.
Selanjutnya bagaimana perang pemikiran ini? Ikuti artikel selanjutnya!

Februari 28, 2008 Posted by | Artikel Kajian | Tinggalkan sebuah Komentar

Orang Terakhir Bag. 2

Sifat dingin Drixir bukan hal yang luar biasa di zaman itu. Ketika zaman telah mendekati kiamat, banyak kekerasan terjadi. Pembunuhan terjadi di mana-mana, meski itu terjadi karena hal-hal yang sepele. Dan Drixir kecil telah terbiasa melihat darah segar di sekitar lingkungannya. Maka, tidaklah mengherankan jika ia begitu dingin melihat darahnya sendiri mengucur deras dari pipinya.
“Prixy, jangan lari ke sana!”, teriak seorang ibu kepada anak perempuannya. “Ayo, kita sembunyi di sini!”
“Tapi di sana lebih aman, Bu”, jawab Prixy dengan setengah teriak.
Tanpa banyak kata, sang ibu mengejar Prixy yang terus berlari menuju gedung kosong. Dengan memasak, sang ibu menarik tangan Prixy. Prixy pun meronta melawan.
“Lepaskan, Bu lepaskan!”
“Tidak, nak. Tentara Yisir telah memasang perangkap di setiap gedung, dan kita harus menghindar dari gedung kosong itu.”
“Tapi, Bu percayalah, gedung di sana itu aman.”
“Aman bagaimana maksudmu? semua gedung sudah dipasang perangkap dan kita harus sembunyi di tempat lain.”
“Tapi, Bu . . .”
Dengan terus menarik tangan Prixy, sang ibu membawanya ke tempat yang ia maksud. Tanpa banyak kata, Prixy mengikuti kemauan ibunya. Mereka menuju ke sebuah rumah kosong. Sebuah rumah yang lebih tepat disebut sebuah tempat barang rongsokan. Penuh dengan debu dan tikus. Pengap dan hampir tidak ada  pencayahaan.  Barang-barang yang tidak terpakai menjadi rumah tikus dan binatang kecil lainnya, seperti kecoa dan lipan. Prixy tampak segan untuk melangkah masuk ke dalam. Tapi ia sadar, melawan kemauan ibunya adalah sia-sia. Entah apa yang ada dibenak ibunya hingga mereka harus sembunyi di rumah itu. Mungkin karena rumah itu kosong dan tidak terawat. Tapi bukankah semua gedung sama kondisinya dengan rumah itu? Prixy hanya bertanya-tanya hingga ibunya berkata, “Cepat ambil kain terpal itu.” Dengan sedikit tergopoh-gopoh, Prixy mengampil terpal yang dimaksud lalu memberikan kepada ibunya.
“Sekarang kita lihat di sekililing rumah ini, mungkin ada sesuatu yang dapat digunakan sebagai penerangan.”
“Tapi, Bu kalau kita nyalakan api, tentara Yisir pasti tahu kita ada di sini?”
“Benar, api yang akan kita nyalakan bukan untuk penerangan, tapi untuk perangkap.”
“Perangkap? Maksud Ibu untuk menjebak tentara Yisir?”
“Iya, tapi bukan untuk sekarang.”
“Tapi kitakan tidak punya apa-apa untuk melawan mereka, Bu?”
“Tapi kita punya akal.”
“Ibu, bukannya aku tidak setuju, tapi akal saja tidak cukup melawan mereka.”
“Nak, melawan atau tidak, kita tetap saja akan dibunuh oleh mereka. Tapi lebih terhormat kalau kita mati dengan cara syahid daripada mati seperti budak tidak berdaya.”
“Bu, aku bukan takut mati, tapi pasti ada cara lain untuk bertahan hidup.”
“Cara lain bagaimana? Sembunyi di gedung itu maksudmu?”
“Bu, aku tidak ingin berdebat dalam kondisi seperti ini. Apalagi aku lagi hamil. Aku ingin kita selamat dan paling tidak aku dapat melahirkan anakku ini.”
Sambil memegang perut dan mengelus-elusnya, Prixy menahan tangis. Entah tangis bahagia menanti kelahiran anaknya atau tangis karena harapannya yang begitu kecil di depan mata. Bercampur aduk. Ia tahu mereka pasti dikejar oleh tentara Yisir hingga ke ujung dunia, tapi menyelamatkan kandungannya adalah harapan yang tersisa untuk melawan bangsa Yisir.
Melihat Prixy mengeluarkan air mata, sang Ibu mendekati Prixy. Ia mendekap Prixy dalam-dalam sambil berkata, “Ia juga bakal cucuku yang pertama, Prixy. Ibu sudah tidak sabar melihatnya lalu ketika ia besar ibu dipanggil nenek. Ah, betapa bahagianya aku telah menjadi seorang nenek. Tapi kita harus tegar dan kuat. Sebisa apapun kita harus selamat. Bukan hanya untuk kita bayimu dan semua bangsa Turag. Ingat pesan ayahmu, imanlah yang harus membuat kita  tegar. Imanlah yang harus menjadi kita kuat. Bangsa Yisir ingin membinasakan bangsa kita hanya karena kita beriman. Prixy, kita harus sebisa kita untuk melawan. Paling tidak kita berlindung untuk selamat sementara hingga kamu melahirkan bayimu ini. Sambil berkata demikian, sang ibu mencium perut Prixy dengan penuh kasih sayang. Prixy melihatnya dengan tersenyum bahagia. Ia merasa masih ada satu harapan untuk tetap hidup . Dan harapan itu dalam kandungannya.
Tiba-tiba, terdengar derap langkah berat dari luar. Prixy dan Ibunya pun tersentak kaget. Mereka diam dan tampak ketakutan. Mereka menunggu apakah langkah tersebut menuju ke rumah itu atau tidak. Terdengar suara perintah yang begitu berwibawa. Suara itu terdengar begitu dekat dan lantang.
“Cepat, periksa setiap sudut dari rumah-rumah di sini. Jangan ada sejengkal pun yang tertinggal!”
Tentara yang diperintahkan pun segera menuju ke setiap rumah. Prixy dan Ibunya tahu, ini hanyalah tinggal menunggu waktu saja tempat persembunyiaan mereka akan diperiksa. Mereka masih berdiri. Diam, ketakutan dan menunggu apa yang terjadi. Sementara mereka sendiri belum tahu sama sekali keadaan setiap sudut rumah itu.
Langkah tentara Yisir semakin dekat ke tempat persembunyiaan mereka. Dan suara-suara perintah untuk membongkar setiap sudut rumah itu pun semakin dekat. Begtu dekat hingga hanya selangkah-dua langkah lagi di depan pintu. Prixy semakin ketakutan. Ia mendekap Ibunya semakin erat. Ia tidak bisa berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba terdengar suara.
bersambung . . . .

Februari 26, 2008 Posted by | Artikel Sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

Orang Terakhir Bag. 1

Sinopsis

Cerita fiksi bersambung ini bergenre futuristik tentang orang terakhir yang beriman menjelang hari kiamat. Menjelang hari kiamat banyak terjadi huru-hara dengan orang-orang yang beriman tinggal sedikit. Pengejaran, perburuan serta pembantaian orang yang beriman terjadi di bawah kekuasaan bangsa Yisir. Ketegangan demi ketegangan dalam novel ini membuat Anda bertanya-tanya siapakah orang terakhir tersebut, dan bagaimana nasibnya? Jawabannya silakan Anda mengikuti ceritanya. Selamat membaca!

Mendung menyelimuti kota. Gelap, pekat, menambah kegentingan suasana senja. Ada yang berlarian ke sana ke mari. Kalut mencari tempat persembunyian. Ada yang berteriak minta tolong di antara kerumunan orang yang bingung mencari tempat persembunyian. Sementara gedung-gedung tinggi banyak yang kosong. Ditinggalkan begitu saja. Terbakar seminggu yang lalu dan masih mengepulkan asap. Kaca-kaca pecah dan seluruh ruangan berantakan. Sepi dan gelap. Seluruh gedung-gedung tinggi seperti gudang besar yang kosong. Tak seorang pun yang berani mendekati gedung-gedung tersebut. Mereka tahu, jika bersembunyi di sana maka itu sama saja mengulang kejadian kemarin.

Saat itu, sekitar puluhan orang, laki-laki, wanita dan anak-anak kecil bersembunyi di lantai dua di gedung Central Tower. Mereka pikir bersembunyi di sana aman dari kejaran bangsa Yisir. Tetapi tanpa disangka, Jenderal Drixir mengetahui tempat persembunyian mereka melalui pendektesi panas tubuh. Dengan tanpa ultimatum terlebih dahulu, sang jenderal memerintahkan pasukannya untuk membunuh mereka. Menutup pintu dari luar lalu membakar mereka hidup-hidup. Keji, tapi itu tindakan efektif. Paling tidak, itu pendapat jenderal Drixir. Efektif, karena dalam kondisi sehabis perang hebat dengan bangsa Traw, alat persenjataan yang tersisa tidak banyak . Dan untuk menghabisi bangsa Turag, jenderal Drixir berpikir praktis. Cepat, mudah tapi berhasil memakan korban banyak. Itulah taktik perang yang digunakannya kemarin.

Keji dan begitu dingin. Demi satu tujuan yang segera terwujud, dominasi ideologi non-tuhan dalam wilayah kekuasaan bangsa Yisir. Bahkan, pembantaian bangsa yang beriman harus dilakukan agar generasi bangsa Turag yang beriman tidak akan lahir kembali di tanah bangsa Yisir . Memang dalam setahun terakhir, bangsa Turag yang beriman memang semakin berkurang. Tetapi yang beriman, meski sedikit jumlahnya, benar-benar memiliki pengaruh hebat untuk melawan bangsa Yisir.

Jenderal Drixir, sebagai pemegang komando langsung di lapangan, memang terkenal kejam dan berdarah dingin. Ia terkenal dengan ciri bekas luka di wajahnya yang berbentuk seperti huruf V. Luka itu ia dapatkan ketika ia bermain dengan teman sebayanya, Zriz di masa kecil. Saat itu, mereka asyik membuat pedang-pedangan dari sebilah bambu. Setelah dibuat, bambu tersebut mereka saling adukan seolah-olah perang tanding antarmusuh. Tanpa disengaja, bambu Zriz mengenai pipi kanan Drixir. Merobek pipi dengan cepat. Spontan, Drixir memegang pipinya. Dari sela-sela jarinya mengalir darah segar. Melihat Drixir berdarah, Zriz pun ketakutan. Selama beberapa menit ia terpaku diam. Hanya memandang temanya yang terluka dengan tatapan takut bercampur bersalah. Drixir, dengan tenangnya, hanya mengusap darah dari jemarinya lalu melangkah pulang ke rumah tanpa berkata apapun. Melihat darah mengucur deras dari pipi Drixir, Zriz lari meninggalkan Drixir sendirian. Drixir tidak menghiraukannya. Dan itulah terakhir kalinya mereka bertemu dan berteman. Ia masih berdiri di sana dengan tangan berlumuran darah segar. Tampak jelas bakat darah dinginnya. Ia melangkah pulang, tetap tenang berjalan tanpa meringis kesakitan sedikit pun. Dingin, tanpa ekspresi. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

bersambung . . . .

 

 

 

 

 

 

Februari 22, 2008 Posted by | Artikel Sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

Kisah Berhikmah1: Berfilsafat Salah

Suatu hari, datanglah seorang pemuda kepada Imam Syafi’i, seraya berkata:”Bagaimana bisa Iblis diciptakan dari api lalu Allah menyiksanya dengan api juga di dalam neraka?”

Mendengar pertanyaan yang berlagak filsafat ini, Imam Syafi’i berpikir sejenak. Kemudian beliau mengambil segenggam tanah kering dan melemparkannya ke arah pemuda tersebut. Pemuda tersebut marah dan kesakitan. Imam Syafi’i lalu balik bertanya, “Apakah engkau merasakan sakit?” Dengan kesal pemuda tersebut menjawab, “Jelas sakit.”

Imam Syafi’i berkata, “Bagaimana mungkin seseorang yang dicipta dari tanah dapat merasakan sakit bila dilempar dengan tanah?”

Mendengar pertanyaan ini, si pemuda terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Ia paham dengan apa yang dimaksud oleh Imam Syafi’i bahwa meski setan dicipta dari api tetap saja dapat disiksa dengan api!

 Hikmah dari kisah di atas

 Pada zaman Imam Syafi’i, alam pikir filsafat telah menyebar di kalangan umat Islam, hingga timbullah aliran Mu’tazilah yang lebih mengedepankan rasio daripada Qur’an dan Hadits. Kala itu banyak yang terjebak dalam dunia rasio hingga sukit keluar dari lingkaran setan yang telah dibangun sendiri olehnya. 

Memang banyak hal yang tidak kita ketahui dalam dunia ini, apalagi alam akhirat. Dan itu menjadikan bahan-bahan pertanyaan dalam kalangan umat Islam. Tetapi kita harus membatasi diri dalam sebuah pertanyaan. Tidak semua pertanyaan itu memiliki jawaban, dan tidak semua pertanyaan itu baik. Terkadang membuat pertanyaan itu salah apabila tidak masuk dalam batasan-batasan yang telah dilarang dalam Agama karena apapun jawaban dari itu pasti salah karena hanya Allah sajalah yang tahu jawaban tersebut. Wallahu’alam bishowab!

 

Februari 22, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.