Orang Terakhir Bag. 1
Sinopsis
Cerita fiksi bersambung ini bergenre futuristik tentang orang terakhir yang beriman menjelang hari kiamat. Menjelang hari kiamat banyak terjadi huru-hara dengan orang-orang yang beriman tinggal sedikit. Pengejaran, perburuan serta pembantaian orang yang beriman terjadi di bawah kekuasaan bangsa Yisir. Ketegangan demi ketegangan dalam novel ini membuat Anda bertanya-tanya siapakah orang terakhir tersebut, dan bagaimana nasibnya? Jawabannya silakan Anda mengikuti ceritanya. Selamat membaca!
Mendung menyelimuti kota. Gelap, pekat, menambah kegentingan suasana senja. Ada yang berlarian ke sana ke mari. Kalut mencari tempat persembunyian. Ada yang berteriak minta tolong di antara kerumunan orang yang bingung mencari tempat persembunyian. Sementara gedung-gedung tinggi banyak yang kosong. Ditinggalkan begitu saja. Terbakar seminggu yang lalu dan masih mengepulkan asap. Kaca-kaca pecah dan seluruh ruangan berantakan. Sepi dan gelap. Seluruh gedung-gedung tinggi seperti gudang besar yang kosong. Tak seorang pun yang berani mendekati gedung-gedung tersebut. Mereka tahu, jika bersembunyi di sana maka itu sama saja mengulang kejadian kemarin.
Saat itu, sekitar puluhan orang, laki-laki, wanita dan anak-anak kecil bersembunyi di lantai dua di gedung Central Tower. Mereka pikir bersembunyi di sana aman dari kejaran bangsa Yisir. Tetapi tanpa disangka, Jenderal Drixir mengetahui tempat persembunyian mereka melalui pendektesi panas tubuh. Dengan tanpa ultimatum terlebih dahulu, sang jenderal memerintahkan pasukannya untuk membunuh mereka. Menutup pintu dari luar lalu membakar mereka hidup-hidup. Keji, tapi itu tindakan efektif. Paling tidak, itu pendapat jenderal Drixir. Efektif, karena dalam kondisi sehabis perang hebat dengan bangsa Traw, alat persenjataan yang tersisa tidak banyak . Dan untuk menghabisi bangsa Turag, jenderal Drixir berpikir praktis. Cepat, mudah tapi berhasil memakan korban banyak. Itulah taktik perang yang digunakannya kemarin.
Keji dan begitu dingin. Demi satu tujuan yang segera terwujud, dominasi ideologi non-tuhan dalam wilayah kekuasaan bangsa Yisir. Bahkan, pembantaian bangsa yang beriman harus dilakukan agar generasi bangsa Turag yang beriman tidak akan lahir kembali di tanah bangsa Yisir . Memang dalam setahun terakhir, bangsa Turag yang beriman memang semakin berkurang. Tetapi yang beriman, meski sedikit jumlahnya, benar-benar memiliki pengaruh hebat untuk melawan bangsa Yisir.
Jenderal Drixir, sebagai pemegang komando langsung di lapangan, memang terkenal kejam dan berdarah dingin. Ia terkenal dengan ciri bekas luka di wajahnya yang berbentuk seperti huruf V. Luka itu ia dapatkan ketika ia bermain dengan teman sebayanya, Zriz di masa kecil. Saat itu, mereka asyik membuat pedang-pedangan dari sebilah bambu. Setelah dibuat, bambu tersebut mereka saling adukan seolah-olah perang tanding antarmusuh. Tanpa disengaja, bambu Zriz mengenai pipi kanan Drixir. Merobek pipi dengan cepat. Spontan, Drixir memegang pipinya. Dari sela-sela jarinya mengalir darah segar. Melihat Drixir berdarah, Zriz pun ketakutan. Selama beberapa menit ia terpaku diam. Hanya memandang temanya yang terluka dengan tatapan takut bercampur bersalah. Drixir, dengan tenangnya, hanya mengusap darah dari jemarinya lalu melangkah pulang ke rumah tanpa berkata apapun. Melihat darah mengucur deras dari pipi Drixir, Zriz lari meninggalkan Drixir sendirian. Drixir tidak menghiraukannya. Dan itulah terakhir kalinya mereka bertemu dan berteman. Ia masih berdiri di sana dengan tangan berlumuran darah segar. Tampak jelas bakat darah dinginnya. Ia melangkah pulang, tetap tenang berjalan tanpa meringis kesakitan sedikit pun. Dingin, tanpa ekspresi. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
bersambung . . . .
Kisah Berhikmah1: Berfilsafat Salah
Suatu hari, datanglah seorang pemuda kepada Imam Syafi’i, seraya berkata:”Bagaimana bisa Iblis diciptakan dari api lalu Allah menyiksanya dengan api juga di dalam neraka?”
Mendengar pertanyaan yang berlagak filsafat ini, Imam Syafi’i berpikir sejenak. Kemudian beliau mengambil segenggam tanah kering dan melemparkannya ke arah pemuda tersebut. Pemuda tersebut marah dan kesakitan. Imam Syafi’i lalu balik bertanya, “Apakah engkau merasakan sakit?” Dengan kesal pemuda tersebut menjawab, “Jelas sakit.”
Imam Syafi’i berkata, “Bagaimana mungkin seseorang yang dicipta dari tanah dapat merasakan sakit bila dilempar dengan tanah?”
Mendengar pertanyaan ini, si pemuda terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Ia paham dengan apa yang dimaksud oleh Imam Syafi’i bahwa meski setan dicipta dari api tetap saja dapat disiksa dengan api!
Hikmah dari kisah di atas
Pada zaman Imam Syafi’i, alam pikir filsafat telah menyebar di kalangan umat Islam, hingga timbullah aliran Mu’tazilah yang lebih mengedepankan rasio daripada Qur’an dan Hadits. Kala itu banyak yang terjebak dalam dunia rasio hingga sukit keluar dari lingkaran setan yang telah dibangun sendiri olehnya.
Memang banyak hal yang tidak kita ketahui dalam dunia ini, apalagi alam akhirat. Dan itu menjadikan bahan-bahan pertanyaan dalam kalangan umat Islam. Tetapi kita harus membatasi diri dalam sebuah pertanyaan. Tidak semua pertanyaan itu memiliki jawaban, dan tidak semua pertanyaan itu baik. Terkadang membuat pertanyaan itu salah apabila tidak masuk dalam batasan-batasan yang telah dilarang dalam Agama karena apapun jawaban dari itu pasti salah karena hanya Allah sajalah yang tahu jawaban tersebut. Wallahu’alam bishowab!