NeoRevo’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Orang Terakhir Bag. 2

Sifat dingin Drixir bukan hal yang luar biasa di zaman itu. Ketika zaman telah mendekati kiamat, banyak kekerasan terjadi. Pembunuhan terjadi di mana-mana, meski itu terjadi karena hal-hal yang sepele. Dan Drixir kecil telah terbiasa melihat darah segar di sekitar lingkungannya. Maka, tidaklah mengherankan jika ia begitu dingin melihat darahnya sendiri mengucur deras dari pipinya.
“Prixy, jangan lari ke sana!”, teriak seorang ibu kepada anak perempuannya. “Ayo, kita sembunyi di sini!”
“Tapi di sana lebih aman, Bu”, jawab Prixy dengan setengah teriak.
Tanpa banyak kata, sang ibu mengejar Prixy yang terus berlari menuju gedung kosong. Dengan memasak, sang ibu menarik tangan Prixy. Prixy pun meronta melawan.
“Lepaskan, Bu lepaskan!”
“Tidak, nak. Tentara Yisir telah memasang perangkap di setiap gedung, dan kita harus menghindar dari gedung kosong itu.”
“Tapi, Bu percayalah, gedung di sana itu aman.”
“Aman bagaimana maksudmu? semua gedung sudah dipasang perangkap dan kita harus sembunyi di tempat lain.”
“Tapi, Bu . . .”
Dengan terus menarik tangan Prixy, sang ibu membawanya ke tempat yang ia maksud. Tanpa banyak kata, Prixy mengikuti kemauan ibunya. Mereka menuju ke sebuah rumah kosong. Sebuah rumah yang lebih tepat disebut sebuah tempat barang rongsokan. Penuh dengan debu dan tikus. Pengap dan hampir tidak ada  pencayahaan.  Barang-barang yang tidak terpakai menjadi rumah tikus dan binatang kecil lainnya, seperti kecoa dan lipan. Prixy tampak segan untuk melangkah masuk ke dalam. Tapi ia sadar, melawan kemauan ibunya adalah sia-sia. Entah apa yang ada dibenak ibunya hingga mereka harus sembunyi di rumah itu. Mungkin karena rumah itu kosong dan tidak terawat. Tapi bukankah semua gedung sama kondisinya dengan rumah itu? Prixy hanya bertanya-tanya hingga ibunya berkata, “Cepat ambil kain terpal itu.” Dengan sedikit tergopoh-gopoh, Prixy mengampil terpal yang dimaksud lalu memberikan kepada ibunya.
“Sekarang kita lihat di sekililing rumah ini, mungkin ada sesuatu yang dapat digunakan sebagai penerangan.”
“Tapi, Bu kalau kita nyalakan api, tentara Yisir pasti tahu kita ada di sini?”
“Benar, api yang akan kita nyalakan bukan untuk penerangan, tapi untuk perangkap.”
“Perangkap? Maksud Ibu untuk menjebak tentara Yisir?”
“Iya, tapi bukan untuk sekarang.”
“Tapi kitakan tidak punya apa-apa untuk melawan mereka, Bu?”
“Tapi kita punya akal.”
“Ibu, bukannya aku tidak setuju, tapi akal saja tidak cukup melawan mereka.”
“Nak, melawan atau tidak, kita tetap saja akan dibunuh oleh mereka. Tapi lebih terhormat kalau kita mati dengan cara syahid daripada mati seperti budak tidak berdaya.”
“Bu, aku bukan takut mati, tapi pasti ada cara lain untuk bertahan hidup.”
“Cara lain bagaimana? Sembunyi di gedung itu maksudmu?”
“Bu, aku tidak ingin berdebat dalam kondisi seperti ini. Apalagi aku lagi hamil. Aku ingin kita selamat dan paling tidak aku dapat melahirkan anakku ini.”
Sambil memegang perut dan mengelus-elusnya, Prixy menahan tangis. Entah tangis bahagia menanti kelahiran anaknya atau tangis karena harapannya yang begitu kecil di depan mata. Bercampur aduk. Ia tahu mereka pasti dikejar oleh tentara Yisir hingga ke ujung dunia, tapi menyelamatkan kandungannya adalah harapan yang tersisa untuk melawan bangsa Yisir.
Melihat Prixy mengeluarkan air mata, sang Ibu mendekati Prixy. Ia mendekap Prixy dalam-dalam sambil berkata, “Ia juga bakal cucuku yang pertama, Prixy. Ibu sudah tidak sabar melihatnya lalu ketika ia besar ibu dipanggil nenek. Ah, betapa bahagianya aku telah menjadi seorang nenek. Tapi kita harus tegar dan kuat. Sebisa apapun kita harus selamat. Bukan hanya untuk kita bayimu dan semua bangsa Turag. Ingat pesan ayahmu, imanlah yang harus membuat kita  tegar. Imanlah yang harus menjadi kita kuat. Bangsa Yisir ingin membinasakan bangsa kita hanya karena kita beriman. Prixy, kita harus sebisa kita untuk melawan. Paling tidak kita berlindung untuk selamat sementara hingga kamu melahirkan bayimu ini. Sambil berkata demikian, sang ibu mencium perut Prixy dengan penuh kasih sayang. Prixy melihatnya dengan tersenyum bahagia. Ia merasa masih ada satu harapan untuk tetap hidup . Dan harapan itu dalam kandungannya.
Tiba-tiba, terdengar derap langkah berat dari luar. Prixy dan Ibunya pun tersentak kaget. Mereka diam dan tampak ketakutan. Mereka menunggu apakah langkah tersebut menuju ke rumah itu atau tidak. Terdengar suara perintah yang begitu berwibawa. Suara itu terdengar begitu dekat dan lantang.
“Cepat, periksa setiap sudut dari rumah-rumah di sini. Jangan ada sejengkal pun yang tertinggal!”
Tentara yang diperintahkan pun segera menuju ke setiap rumah. Prixy dan Ibunya tahu, ini hanyalah tinggal menunggu waktu saja tempat persembunyiaan mereka akan diperiksa. Mereka masih berdiri. Diam, ketakutan dan menunggu apa yang terjadi. Sementara mereka sendiri belum tahu sama sekali keadaan setiap sudut rumah itu.
Langkah tentara Yisir semakin dekat ke tempat persembunyiaan mereka. Dan suara-suara perintah untuk membongkar setiap sudut rumah itu pun semakin dekat. Begtu dekat hingga hanya selangkah-dua langkah lagi di depan pintu. Prixy semakin ketakutan. Ia mendekap Ibunya semakin erat. Ia tidak bisa berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba terdengar suara.
bersambung . . . .

Februari 26, 2008 Posted by | Artikel Sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.