Alam Filsafat Vs Tafsir Al Qur’an: Gazwul Fikri Baru (Neo Mind Battling) Bag. 3
Al Kindi, sebagai bapak filosof muslim pertama, yang berjasa membawa alam pemikiran ini ke dunia Islam. Hanya saja dalam perkembangannya, alam pemikiran Yunani ini menjadi ‘racun’ ketika siapa saja pengolahnya terjebak dalam dunia rasional. Artinya, ia lebih mengandalkan kemampuan akalnya untuk menjawab pertanyaan yang ada, baik dari dirinya sendir atau dari luar. Penyelesaian masalah (baca: mencari jawaban) dari pertanyaan inilah yang membawa seseorang terjebak dalam dunia rasio dan empiris bila ia tidak memegang erat-erat Al Qur’an dan Al Hadits secara mutlak. Artinya, kepercayaan terhadap Al Qur’an harus mutlak dari pada mengikuti pola pemikiran yang didasari dari filsafat. Setiap jawaban yang ‘menganggu’ pemikiran kita, harus dipulangkan kembali kepada kebenaran sejati dari Al Qur’an.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa sains pada hari ini berpijak pada filsafat Yunani. Dan sains ini menghasilkan kebenaran relatif yang artinya dalam masa-masa selanjutnya kebenaran ini boleh jadi sebuah kesalahan yang perlu diperbaiki. Dan dalam filsafat, semua pemikiran harus berawal pada skeptis atau keraguan. Artinya, semua yang ada di dunia ada masih diragukan kebenarannya hingga ada jawaban filsafati yang memuaskan (ingat kepuasan adalah kata lain dari sifat hawa nafsu) bahwa hal itu bisa diterima.
Relatif dan skeptis inilah yang jelas-jelas bertentangan dengan konsep Islam. Ketika berbicara tentang hal-hal yang telah mutlak dalam Islam, maka Islam hanya memberi dua pilihan: percaya atau tidak, atau dengan bahasa lain: Beriman atau tidak. Hal ini disebabkan Al Qur’an diturunkan untuk diimani. Dan jika ada yang tidak beriman bahwa Al Qur’an itu wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi melalui malaikat Jibril maka Islam tidak memaksa orang tersebut untuk percaya/beriman. Ia malah diajak untuk berdialog dengan membebaskan dirinya untuk tidak membenci Islam terlebih dahulu. Jika ia telah tertanam kebencian lebih dahulu, maka sulit mencapai dialog terbuka untuk mencapai ‘kesepakatan-kesepakatan’ yang sama. Jika dialog tanpa kebencian ini ada, maka ‘kesepakatan untuk berbeda’ ini akan sama-sama dihormati kedua belah pihak, seperti yang dicontohkan oleh Nabi dalam piagam Madinah. Yahudi, Nasrani dan Islam beda dalam ideologi tapi sepakat dalam satu payung piagam Madinah dalam membangun civil society.
Hanya saja, dalam Islam ada hal-hal yang dapat didialogkan untuk mencapai ‘sepakat untuk sama’ dan ada yang tidak dapat didialogkan . Dan ada yang dapat didiaologkan untuk ‘sepakat untuk tetap berbeda selamanya’. Dan sayangnya, ada sebagaian umat Islam yang masuk dalam hal-hal yang sudah jelas dan mutlak (qot’i) untuk didialogkan dengan konsep dari luar untuk sampai pada ‘sepakat untuk sama’. Yang dimaksud ‘sepakat untuk sama’ adalah bahwa dalam Islam itu ternyata sama apa yang ada di agama lain, dalam hal ini Nasrani.
Sepakat untuk sama yang mereka inginkan adalah bahwa Al Qur’an itu sama seperti Injil yang perlu dikritisi secara ilmiah (baca: dengan sains). Bila Injil bisa dikritisi mengapa Al Qur’an tidak? Begitulah kira-kira pertanyaan sederhananya dari mereka. Mereka ingin sepakat bahwa Al Qur’an dapat dikritisi melalu pisau bedah alam pemikiran Yunani, Hermeneutika.
Ada di antara muslim Indonesia yang ingin mendialogkan (mewacanakan) hal-hal yang qot’i dengan mengambil metodologi dari luar Islam. Mereka beranggapan bahwa Al Qur’an perlu dikritisi untuk mencapai keyakinan yang lebih kuat melalui pisau bedah hermeneutika.
Untuk memberi contoh karya kritis terhadap Injil, penulis dapat memberi contoh kepada Anda melalui buku Kritik Bibel, sebuah buku terjemahan dari karya Baruch Spinoza, Tractatus Theologico-Politicus. Baruch Spinoza, seorang filosof dan teolog Yahudi, menyatakan bahwa kebebasan berpikir tidak membahayakan iman dan negara. Dengan konsep kebebasan berpikir inilh ia mencoba melepaskan belenggu dirinya untuk mengkritisi Injil dengan tiga pertanyaan skeptis utama untuk dibahas. Yang pertama berkaitan dengan kebahasaan dan bahasa sang pemakai dalam penulisan Injil. Yang kedua berkaitan dengan ayat-ayat untuk dikelompokkan secara tematis dan sistematis. Dan juga mana yang jelas dan tidak jelas. Yang dimaksud jelas adalah jelas menurut konteks kalimat bukan menurut logika. Dan yang ketiga adalah berkaitan dengan latar belakang sejarah / riwayat penulis Injil.
Injil/Bibel dikritisi oleh sebagian umat Nasrani memang dirasakan perlu oleh mereka. Hal ini sebabkan sejarah penyusunan Injil yang memang penuh dengan masalah. Maka diantara mereka ada yang mencoba untuk menganalisa melalui metodologi hermeneutika untuk mencapai kebenaran yang hakiki. hal ini disebabkan Injil yang ada sekarang ini adalah “wahyu Tuhan yang diinspirasikan kepada manusia.” Oleh karenanya, Injil merupakan teks karya manusia yang mana manusia, secara fitrah, pasti memiliki kesalahan-kesalahan. Dan tugas utama dari hermeneutika adalah untuk memahami teks sebagai mana dimaksudkan oleh para penulis teks itu sendiri. Selanjutnya, timbullah penafsiran-penafsiran yang memberikan kebenaran relatif. Dimaksud relatif, karena metodologi ini berasal dari Yunani, maka kebenaran itu tetaplah relatif selama menggunakan metodologi ini. Dengan demikian, tidak ada kebenaran mutlak dalam Injil, karena penafsiran Anda dan Saya yang relatif tadi.
Ini semua ingin diaplikasikan pada Al Qur’an. Dan inilah perang pemikiran baru di abad ini yang dihadapi umat Islam.
Selanjutnya bagaimana perang pemikiran ini? Ikuti artikel selanjutnya!