Orang Terakhir Bag. 4
Tepat tiga puluh tahun yang lalu. Gedung Excersor, sekitar jam 10 malam. Seorang pria berlari di koridor lantai tujuh.
“Cepat tangkap orang itu!”, teriak para pengaman gedung. Mereka mengejar pria itu yang berlari menuju lift.
“Tutup semua akses keluar!”, perintah kepala keamanan.
Pria tersebut terus berlari menaiki tangga. Ia tahu kesempatan untuk lolos sangat kecil. Tapi ia harus meloloskan diri. Hidup atau mati asal program yang ada di tangannya harus dikirim segera.
“Tangkap dia, jangan sampai lolos. Jangan dibunuh. Aku ingin ia hidup-hidup!”, perintah Laxirmir, Boss Excersor.
“Baik, Pak”, singkat saja kepala keamanan menjawab sambil menutup telepon jam di tangannya.
Sementara itu, pria tadi terus berlari naik ke tangga ke lantai sembilan. Tangannya sibuk menekan tombol yang ada di jamnya. Ia lagi berusaha mengirimkan program tersebut. Sinyal di gedung itu memang sulit. Tidak heran, karena Laximir telah memblokir akses sinyal di gedung tersebut. Ia terus mencoba. Tepat ketika ia sampai di atap gedung, ia berhasil mendapatkan sinyal. Program telah terkirim.
“Jangan bergerak!”, perintah para pengaman gedung. Mereka menodongkan pistol ke arahnya.
“Haha hahahaa. Kalian ingin membunuhku, bunuhlah. Toh tugasku selesai. Yang tersisa memang kematian yang kucari. Ayo cepat tembak. Semakin cepat kalian membunuhku semakin cepat aku bertemu dengan Tuhanku!”. Ayo cepat tembak!”
Para pengaman gedung tampak ragu-ragu. Mereka mendapatkan perintah untuk tidak membunuhnya, tapi mereka tidak memiliki cara untuk menangkapnya hidup-hidup. Pria itu siap dengan pistolnya pula. Jika mereka mendekat, nyawa melayang. Jika tidak menangkapnya mereka dapat hukuman. Boleh jadi hukuman mati. Mereka semua terdiam, memikirkan cara menangkapnya. Tiba-tiba tanpa ada komando, salah satu dari mereka memuntahkan peluru.
“DOR!”
“Ah!”
Pria itu tersungkur. Kaki kanannya berdarah.
“Cepat, ringkus dia!”, perintah salah satu dari mereka.
Dengan cepat mereka mencoba menangkapnya. Salah satu dari mereka mencoba untuk menendang pistolnya. Tapi terlambat, pria tersebut sempat menarik pelatuk.
“DOR DOR!”
Dua orang tersungkur. Tapi yang lain dapat merebut pistolnya. Ia melawan. Perkelahian tak dapat dihindarkan. Empat melawan satu. Tak seimbang. Ia kalah dengan tiga kali pukulan di wajahnya dan dua kali tendangan di perut, ia tersungkur di lantai.
bersambung . . . .
Orang Terakhir Bag. 3
Tepat di depan pintu rumah itu. Suara desing peluru menembaki para tentara Yisir. Prixy dan ibunya pun terkejut. Mereka spontan merunduk dan berbaring. Prixy sempat ingin berteriak tapi ibunya dengan cepat membungkamnya.
“Ssstt, jangan teriak”, kata ibunya dengan lirih. Prixy masih takut. Tak lama kemudian ia bertanya.
“Siapa Bu yang menembak tadi?”
“Ibu tidak tahu, yang jelas tentara Yisir sedang diserang. semoga saja mereka tidak masuk ke sini kalau tidak . . .”
Belum selesai kalimatnya, tiba-tiba seorang tentara Yisir mendobrak masuk. Pintu terbuka. Cahaya luar pun menerangi sebagian ruangan di mana Prixy dan ibunya masih di atas lantai berbaring ketakutan. Tentara itu tampak terluka. Wajahnya yang tertutup oleh topeng baja tampak berlumuran darah. Ia jatuh tersungkur. Sebuah senapan otomatis tergeletak di sampingnya. Ia mati tertembak.
Tanpa berpikir panjang, Ibu Prixy segera bangkit dan mengambil senjata tersebut. Prixy melihatnya dengan hati yang berdebar-debar. Sejurus kemudian, ibunya kembali ke tempatnya dengan senjata tersebut. Tapi ia lupa menutup pintu.
Pintu masih terbuka. Sedikit lebar. Dan Suara tembakan masih berdesingan di rumah tersebut.
“Bu, pintunya. “
“Tunggu di sini!”
Ibu Prixy segera bangkit kembali. Bergerak cepat menuju ke pintu. Tapi tepat di depan pintu, ia melihat seseorang berdiri dengan sebilah pedang di sampingnya. Laki-laki tersebut berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Bukan darahnya tapi darah tentara Yisir. Untuk sesaat, ibu Prixy terdiam. Kemudian keheningan pecah oleh suara orang tersebut.
“Tenang Anda sudah aman.”
Ibu Prixy masih terdiam. Ia melihat sekelilingnya. Darah bersimbah di mana-mana. Tentara Yisir banyak yang mati. Ada tertembak dan ada yang terhunus pedang.
“Anda siapa? Dan kemana tentara Yisir lainnya?”
Belum sempat laiki-laki tersebut menjawab, tiba-tiba terdengar suara lantang berteriak-teriak dari ujung jalan.
“Cepat sembunyi, tentara Yisir sedang menuju ke mari!”
Tanpa berpikir panjang, laki-laki tersebut menarik tangan ibu Prixy ke dalam rumah tersebut. Pintu pun ditutupnya. Ibu Prixy menurut saja tanpa banyak kata-kata. Prixy tidak bisa melihat laki-laki tersebut dengan jelas. Tapi ia seperti kenal suara tersebut. Entah di mana. Tapi suara tersebut tidak asing baginya.
bersambung . . . .
Alam Filsafat Vs Tafsir Al Qur’an: Gazwul Fikri Baru (Neo Mind Battling) Bag. 4
