NeoRevo’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Orang Terakhir Bag. 3

Tepat di depan pintu rumah itu. Suara desing peluru menembaki para tentara Yisir. Prixy dan ibunya pun terkejut. Mereka spontan merunduk dan berbaring. Prixy sempat ingin berteriak tapi ibunya dengan cepat membungkamnya.

“Ssstt, jangan teriak”, kata ibunya dengan lirih. Prixy masih takut. Tak lama kemudian ia bertanya.

“Siapa Bu yang menembak tadi?”

“Ibu tidak tahu, yang jelas tentara Yisir sedang diserang. semoga saja mereka tidak masuk ke sini kalau tidak . . .”

Belum selesai kalimatnya, tiba-tiba seorang tentara Yisir mendobrak masuk. Pintu terbuka. Cahaya luar pun menerangi sebagian ruangan di mana Prixy dan ibunya masih di atas lantai berbaring ketakutan. Tentara itu tampak terluka. Wajahnya yang tertutup oleh topeng baja tampak berlumuran darah. Ia jatuh tersungkur. Sebuah senapan otomatis tergeletak di sampingnya. Ia mati tertembak.

Tanpa berpikir panjang, Ibu Prixy segera bangkit dan mengambil senjata tersebut. Prixy melihatnya dengan hati yang berdebar-debar. Sejurus kemudian, ibunya kembali ke tempatnya dengan senjata tersebut. Tapi ia lupa menutup pintu.

Pintu masih terbuka. Sedikit lebar. Dan Suara tembakan masih berdesingan di rumah tersebut.

“Bu, pintunya. “

“Tunggu di sini!”

Ibu Prixy segera bangkit kembali. Bergerak cepat menuju ke pintu. Tapi tepat di depan pintu, ia melihat seseorang berdiri dengan sebilah pedang di sampingnya. Laki-laki tersebut berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Bukan darahnya tapi darah tentara Yisir. Untuk sesaat, ibu Prixy terdiam. Kemudian keheningan pecah oleh suara orang tersebut.

“Tenang Anda sudah aman.”

Ibu Prixy masih terdiam. Ia melihat sekelilingnya. Darah bersimbah di mana-mana. Tentara Yisir banyak yang mati. Ada tertembak dan ada yang terhunus pedang.

“Anda siapa? Dan kemana tentara Yisir lainnya?”

Belum sempat laiki-laki tersebut menjawab, tiba-tiba terdengar suara lantang berteriak-teriak dari ujung jalan.

“Cepat sembunyi, tentara Yisir sedang menuju ke mari!”

Tanpa berpikir panjang, laki-laki tersebut menarik tangan ibu Prixy ke dalam rumah tersebut. Pintu pun ditutupnya. Ibu Prixy menurut saja tanpa banyak kata-kata. Prixy tidak bisa melihat laki-laki tersebut dengan jelas. Tapi ia seperti kenal suara tersebut. Entah di mana. Tapi suara tersebut tidak asing baginya.

 

bersambung . . . .

 

 

 

 

 

Maret 4, 2008 - Posted by | Artikel Sastra

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.