NeoRevo’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Alam Filsafat (Hermeneutika) Vs Tafsir Al Qur’an: Ghazwul Fikri Baru (Neo Mind Battling) Bag. 1

Pengantar 

Penulis tertantang untuk membalas balik argumentasi para pendukung alam pemikiran filsafat untuk diterapkan dalam penafsiran Al Qur’an. Banyak tokoh hebat yang telah membantah akan alam pemikiran Yunani ini untuk diterapkan dalam penafsiran Al Qur’an. Penulis menyadari bahwa ia mengikuti arus pemikiran tokoh-tokoh seperti saudara Adian Husaini, Adnin Armas, dan Syamsudin Arif, yang semuanya merupakan intelektual muda dan berbakat serta brillian. Mereka berkumpul dalam satu atap di INSIST. Penulis mengakui bahwa ia banyak belajar langsung dari karya tulis mereka baik melalui majalah ISLAMIA maupun melalui buku. Penulis ingin menjadi penyambung pena mereka untuk melawan arus pemikiran berbahaya yang sedang “in” di kalangan anak muda Islam Indonesia. Disebut bahaya karena pemikiran ini secara gradual dan sistematik akan meruntuhkan pondasi paling dasar agama Islam secara tekstual. Disebut gradual karena secara bertahap mereka menyampaikan pemikirannya ini melalui media-media yang resmi dan melalui seminar-seminar yang rutin dilaksanakan. Disebut sitematis karena ada beberapa institusi pendidikan agama yang mendukung pola pemikiran ini melalui kurikulum resmi. Jadi, sudah saatnya semua ilmuwan muslim yang berkompeten untuk turut turun gunung dan mengangkat pena untuk perang dengan mereka di medan peperangan melalui media! C’mon let’s do it in the name of Allah, now or never

Imam Sayfi’i vs Kaum Rasionalis: Prolog perang pemikiran  

al-imamasy-syafii.jpg

Imam Syafi’i ketika menulis karya master piece-nya Risalah memang dalam masa pertempuran pemikiran antara kaum Muktazilah (rasionalis) dengan kalangan tradisionalis. Risalah adalah buku pertama yang komprehensif yang mengulas tentang ushul fiqh yang sekaligus juga menghadang pola pemikiran kaum rasionalis Mu’tazilah (baca Cita Humanisme Islam, terjemahan dari karya George A. Makdisi “The Rise of Humanism”, 2005). 

Pertempuran pemikiran di zaman Imam Syafi’i masih berkisar pada persoalan pada pertanyaan apakah Al Qur’an itu makhluk atau bukan. Para mutakallimun (teolog filsufis) mengajukan pertanyaan ini dalam pola pemikiran masyarakat yang tradisional. Disebut tradisional karena mereka tidak pernah membuat pertanyaan yang mana pertanyaan itu malah membuat mereka jauh dalam hal-hal yang telah jelas dan ini telah dijalankan oleh para sahabat yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad. Imam Syafi’i ketika menulis Risalah  tidaklah secara khusus menyerang kaum Mu’tazillah, namun secara halus beliau menulis pada bagian awal pendahuluan dari bukunya: “Segala puji bagi Allah . . . Dia adalah sebagaimana Dia menyifati diri-Nya dan Dia Mahasuci dari sifat-sifat yang digambarkan oleh makhluk.”  Kalimat beliau ini secara halus menyindir pendapat kaum rasionalis yang menggambarkan kebesaran Allah dan sifat-sifat-Nya melalui spekulasi hasil pemikiran (akal) mereka. Selanjutnya beliau menulis pada akhir pendahuluan dari kitabnya :Tak ada satu pun kejadian yang dialami oleh seorang mukmin kecuali terdapat dalam Al Qur’an, petunjuk tentang hal itu yang mengarahkannya kepada jalan benar.”

Maksud dari kalimat beliau adalah jelas yaitu segala petunjuk yang dibutuhkan manusia telah terdapat dalam Al Qu’ran sehingga mereka tidak perlu mencari petunjuk lain selain Al Qur’an (sebagai the ultimate prime source of law). Adapun kalangan rasionalis lebih mendahulukan spekulatif pemikiran mereka dari pada merujuk ke Al Qur’an tentang berbagai hal.

Perbedaan tajam antara Imam Syafi’i dan kaum rasionalis adalah Imam Syafi’i membuat metodologi yang begitu kokoh di kalangan tradsionalis untuk menjalani Islam dengan tunduk (menyerah tanpa syarat) terhadap semua hukum dan keinginan Allah secara baik. Dan sumber hukum Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Adapun kaum rasionalis yang dibawa oleh Mu’tazilah, lebih membicarakan apakah Tuhan itu dan siapakah Dia.  Atau lebih mempertanyakan tentang keberadaan Tuhan dari pada bagaimana menjalankan agama Islam dalam kerangka hukum yang telah ditentukan oleh Allah dengan bantuan pemahaman menjalankan hukum tersebut melalui metodologi yang dirancang oleh Imam Syafi’i.

Kaum Mu’tazilah lebih suka memasuki bidang debatble yang susah dan tidak mungkin mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pada berbicara tentang bagaimana sholat yang benar, mengeluarkan zakat sesuai kadar kewajibannya, atau bagaimana menjalankan perdagangan yang bebas dari riba dan penipuan.  Mereka lebih suka memikirkan tentang Tuhan dari pada makhluk-Nya. Dalam hal ini ada sebuah celoteh kecil antara Bogok dan Raysid. Rasyid yang baik hati bertemu dengan seseorang yang bernama Bogok. Bogok tidak mengenal siapa itu Rasyid sebelumnya. Padahal Rasyid adalah tokoh terhormat di kota tersebut. Maklumlah Bogok ini tidak memiliki media apapun untuk diakses, meski ia dapat baca-tulis.

Bogok yang seorang tuna wisma dan miskin papa diminta oleh Rasyid untuk tinggal di rumah mewahnya secara gratis. Syaratnya sederhana; tinggal di dan merawat rumah mewah tersebut sesuai aturan yang telah dibuat oleh Rasyid. Hal-hal tentang biodata Rasyid atau pun aturan-aturan lainnya, Bogok dapat membacanya melalui buku induk yang ada di ruang tamunya.  Tetapi, alih-alih menjalankan apa yang diminta Rasyid, Bogok malah bertanya tentang hal-hal pribadi Rasyid.

Rasyid : Gok, kamu tinggal di rumahku ya. Rawat dan hiduplah sesuai aturan yang ada di dalam rumahku, seperti matikan lampu kalau mau tidur dan nyalakan AC seperlunya. Matikan kran bila tidak lagi menggunakan air dan jangan lupa kunci pintu sebelum tidur.

Bogok : Baik pak, tapi Bapak ini siapa ya, maksud saya Bapak kerjanya di mana? Istri Bapak berapa, berapa kali Bapak berhubungan badan dengan istri, sekali dalam seminggu, atau dua kali dalam seminggu. Kok Bapak baik sekali pada saya ya, Bapak ini orang kaya atau tidak sih, apakah Bapak bergaji lima juta sebulan atau semilyar, dan berapa sih nomer rekening Bapak, boleh dong saya tahu, kan saya tinggal di rumah Bapak ini. Dan omong-omong itu buku di atas meja yang ada di ruang boleh dirubahkan pak, kan saya yang menempati rumah Bapak. Boleh dong saya mengganti sesuai keinginan saya. Kan saya sudah berhak menempati rumah ini?

Kira-kira analogi cerita di atas adalah Bogok ini (singkatan dari bodoh dan goblok) adalah kita manusia biasa yang berani bertanya  tentang wilayah pribadi (private) Allah. Pertanyaannya adalah pantaskah Bogok yang diminta  untuk tinggal di rumah mewah Rasyid secara gratis berani bertanya tentang hal-hal pribadi Rasyid? Pasti jawabannya sangat-sangat tidak pantas bahkan dapat dikatakan sangat kurang ajar dan tidak bersyukur. Lha wong  sudah ditolong, tinggal di rumah mewah secara gratis malah bertanya yang enggak-enggak tentang sang pemilik rumah.

Demikianlah kita. Adalah sangat begitu kurang ajar apabila kita bertanya tentang wilayah private Tuhan. Baik itu seperti bagaimana tangan Tuhan, apa maksud Tuhan dari balik kejadian takdir atau mengapa Tuhan tidak dapat dilihat. Banyak hal-hal yang merupakan wilayah private Allah yang tidak mungkin kita untuk mengajukan pertanyaan tersebut, meski ada “godaan” yang membesit di otak kita secara nakal untuk bertanya (baca: bisikan setan).

Sama kurang ajarnya kita dengan Bogok apabila ada pertanyaan tentang wilayah private Allah. Dan inilah yang dilakukan oleh kaum Mu’tazilah. Mereka berasio seakan-akan semua pertanyaan dapat diajukan untuk mendapatkan jawaban tentang “pemilik rumah” ini. Padahal “rumah” (baca: dunia) ini kita tinggal di dalamnya secara gratis dan kita hanya merawatnya dengan baik sesuai aturan sang pemilik rumah.

Inilah yang ingin dicegah Imam Syafi’i secara cerdas melalui buku beliau Risalah. Tujuan penulisan Risalah adalah untuk menangkis sistem pengetahuan agama yang mencoba keluar dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Sistem yang berkembang subur di zaman tersebut adalah pembebasan (baca: liberal) akal terhadap Al Qur’an dan Sunnah Nabi dari apa yang telah dijalankan baik oleh para sahabat sebagai pengikut pertama Nabi. Kebebasan akal ini (liberal) memberi mereka “ruang baru” yang tidak pernah ditemui di zaman sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, lebih-lebih Umar bin Khattab. “Ruang baru” tersebut adalah mereka lebih berbasis pada akal untuk menjawab segala pertanyaan “lagi ngetren” yang sejatinya dilarang untuk diajukan pertanyaan tersebut dari pada merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Akibatnya adalah banyak hal-hal yang membuat mereka terperosok ke dalam wilayah “lingkaran setan” yaitu pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti.

Bukan tidak ada jawaban pasti tetapi pertanyaan itulah yang salah untuk diajukan menjadi sebuah wacana dialektika. Jawaban tentang Tuhan pasti ada, dan hanya Dialah yang mengetahui jawaban tersebut karena pertanyaan private hanya Tuhan sendiri yang Mahatahu jawabannya. Tetapi kaum rasionalis mencoba untuk masuk wilayah gelap /  dark zone bagi akal kita. Ibarat sebuah black hole, jawaban tersebut hanya diketahui oleh sang pembuat akal kita.

Perang pemikiran antara kaum Mu’tazilah dengan pendukung Imam Syafi’i ini membuka babak baru dalam Islam bahwa ada sekelompok umat Islam yang mencoba memasuki wilayah yang sudah diperingkatkan Nabi untuk tidak memasuki wilayah tersebut, meski akal kita secara nakal terbesit pertanyaan-pertanyaan tentang hal tersebut (baca: godaan setan).

Apa yang terjadi di kaum Mu’tazilah telah lebih dulu diabadikan dalam Al Qur’an akan pemikiran yang berbasis akal bebas oleh kaum Yahudi. Pertanyaan yang ‘nakal’ telah diajukan oleh kaum Bani Israil di zaman Nabi Musa. Secara ‘nakal’ mereka mencoba untuk menjadi apa yang sekarang dikenal dalam aliran filsafat sebagai empiris, pengetahuan (baca: keyakinan) dicapai melalui pengalaman. Mari perhatikan ayat berikut:

 وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً

yang artinya:  Dan (ingatlah) ketika kamu (bani Israil) berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”. (AL Baqarah 55).

Model pemikiran empiris ini telah terjadi lebih dahulu dari pada apa yang dilakukan oleh para filosof Yunani ataupun teori empiris yang disusun oleh filosof Barat. Bani Israil tidak akan beriman (percaya) akan keberadaan Tuhan sebelum melihat (baca: pengalaman melihat secara langsung) Tuhan yang selama ini telah menolong mereka dari rezim Fir’aun. Bakat Bani Israil untuk menjadi filosof ‘nakal’ dengan bermain-main dalam pertanyaan dan keinginan melalui pembebasan akal ditunjukkan lagi dalam surat yang sama di ayat yang berbeda tentang perintah untuk menyembelih sapi betina. 

Perintah dari Tuhan sangat sederhana. Potong seekor sapi betina. Namun, Bani Israil ‘berfilsafat’ dengan mengajukan pertanyaan tentang sapi betina tersebut. Perintah sederhana dibuat ruwet oleh pertanyaan yang tidak perlu dan mengesankan bermain-main dalam perintah agama. Akibatnya? Mereka hampir tidak dapat menjalankan perintah hasil dari pertanyaan mereka sendiri. Sebuah berfilsafat konyol yang membuat diri sendiri susah. Dan ini ciri dari apa yang sekarang disebut aliran rasionalis.  Mengapa demikian? Karena pemotongan sapi betina itu tidak dapat diterima oleh akal mereka. Mengapa sapi betina, lalu bagaimana ciri-ciri sapi betina itu bila itu perintahnya? Inilah ciri khas orang yang ‘bergaya filosofi’ yang tidak perlu.

Perintah Tuhan jelas, tapi dicoba untuk dirasiokan dan akhirnya menjadi susah sendiri. Selengkapnya baca Al Baqarah ayat 67-71. Mengapa mereka mencoba berfilsafat dalam hal ini. Sederhana saja jawabannya. Mereka tidak ingin ketahuan akan siapa pembunuh seseorang dalam kaum mereka.  Berdalih dengan berfilsafat untuk tidak menjalankan perintah agama agar tidak ketahuan belang pembunuhnya. Adakah ciri orang seperti ini di zaman kita sekarang? Jawabannya ada di tangan Anda.

Babak awal kaum rasionalis dalam Islam yang diusung oleh kaum Mu’tazilah berlanjut hingga sekarang dengan nama dan label yang beragam. Intinya hanya satu: pembebasan (liberal) akal terhadap apa yang sudah dibakukan oleh Allah dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Pembebasan ini, menurut mereka, sebuah keniscayaan kita sebagai manusia berakal. Dengan pembebasan akal ini, menurut mereka, maka maksud Tuhan akan lebih jelas dan (kalau perlu) benar atau salahnya ditentukan oleh akal kita sebagai penghormatan kita sebagai makhluk berakal. 

Bagaimana babak baru ini berlangsung selanjutnya? Jawabannya silakan tunggu artikel selanjutnya.

    

Januari 28, 2008 Posted by | Artikel Kajian | , , , , | 1 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.